FISIP UNS Berkolaborasi dengan FIB  UNS Selenggarakan Semnas Kemanusiaan Dukung Perdamaian Konflik Israel-Palestina

FISIP UNS Berkolaborasi dengan FIB  UNS Selenggarakan Semnas Kemanusiaan Dukung Perdamaian Konflik Israel-Palestina

Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Prodi HI FISIP) dan Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS)  menyelenggarakan Seminar Nasional terkait konflik yang terjadi antara Negara Israel dan Palestina, Kamis , 27 Mei 2021. Seminar Nasional dilaksanakan   secara daring melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting dan disiarkan langsung di kanal Youtube UNS.

Dengan tema  ‘Damai Demi Kemanusiaan Mewujudkan Solusi Konflik Israel-Palestina Pasca Gencatan Senjata’, Semnas ini menghadirkan Menteri Luar Negeri RI, yakni Retno L. P Marsudi yang diwakili oleh Abdul Wahid Maktub selaku Duta Besar Indonesia untuk Qatar Periode 2003 – 2007, Prof. Istadiyantha selaku Guru Besar Kajian Timur Tengah UNS, Meutya Hafid selaku Ketua Komisi I DPR RI, dan Salieg Luki Munestri, S.S., M.A Dosen HI FISIP UNS yang saat ini sedang studi lanjut di Illinois State University Amerika  dengan moderator Muhnizar Siagian, S.IPol M.Pol dosen Prodi HI UNS . Dengan jumlah peserta yang hadir lebih dari  240-an peserta.

Sebagai kampus Benteng dan Pelopor Pancasila, UNS merasa perlu untuk berkontribusi dalam memberikan sumbangan pemikiran untuk mengatasi isu kemanusiaan akibat konflik Israel-Palestina. Melalui penyelenggaraan semnas ini diharapkan mampu  melahirkan pemikiran-pemikiran yang dapat menjadi solusi bagi konflik kedua negara.

Rektor UNS, Prof. Jamal Wiwoho Hadir membuka sekaligus memberikan sambutan, Prof Jamal menyatakan bahwa konflik antara Israel dan Palestina merupakan konflik yang hampir tidak pernah luput dari pemberitaan media. Bahkan konflik keduanya seperti tidak ada habisnya dan selalu memanaskan konstelasi politik di Timur Tengah. Perseteruan ini tidak hanya melibatkan kedua negara, tetapi juga beberapa negara yang turut menyoroti perseteruan tersebut, termasuk Indonesia. Prof. Jamal berharap  perdamaian antara Israel-palestinan harus diwujudkan.

Meutya Hafid, Ketua Komisi I DPR RI yang hadir dalam acara tersebut menuturkan bahwa penjajahan adalah inti persoalan. Selama lebih dari tujuh dekade, konflik antara Israel dan Palestina menempatkan Israel sebagai negara penjajah dan Palestina sebagai negara terjajah. Meskipun, upaya diplomatik melalui tekanan dunia Internasional berhasil mewujudkan gencatan senjata namun perdamaian yang sesungguhnya masih membutuhkan  waktu yang sangat panjang panjang.

Dalam paparannya Salieg Luki Munestri, S.S., M.A menyampaikan bahwa konflik israel  Palestina bukan merupakan isu baru namun banyak yang belum paham dengan apa yang terjadi. Keberadaan media masa sebagai acuan untuk mendapakan informasi terkadang masih terkendala pada etika jurnalisme yang sesungguhnya yang melibatkan  obyektifitas dan pemilihan kata yang tepat, adanya bias media terkait konflik yang terjadi  serta  pengaruhnya bagi masyarakat di seluruh dunia. Salieg menyebutkan  adanya dua spectrum media bias  khususnya  yang terjadi di Amerika yaitu beraliran kiri dan kanan. Adanya discourses di AS bergeser dengan banyaknya dukungan kepada Palestina yang dipengaruhi oleh  keterbukaan  media, serta  perubahan generasi walaupun kebijakan luar negeri AS sendiri masih Pro Israel. Sedangkan Prof. Istadiyantha, banyak memberikan gambaran tentang sejarah terjadinya konflik Amerika dari dahulu hingga yang terjadi saat ini. (Maryani FISIP UNS)