Tim PKM Gabungan FISIP dan FP  UNS  Yang Lolos Kemenristekdikti,  Beri Pelatihan Pembuatan Mie Labu  Kuning di Majasem

Kementrian Riset, Teknologi, dan PerguruanTinggi (Kemenristekdikti) telah membuat sebuah event kompetisi  tahunan bagi mahasiswa salah satunya melalui  Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Peserta PKM berasal dari seluruh  universitas yang baik negeri maupun swasta yang diseleksi ketat dan berjenjang dari tingkat fakultas, universitas hingga di tingkat nasional. Tim yang lolos akan mendapatkan dana penelitian atau pengabdian masyarakat sesuai dengan rancangan proposal yang diajukan.

Salah satu tim dari Universitas Sebelas Maret (UNS), CUMONO dinyatakan lolos dalam ajang tersebut dengan mengambil bidang PKM pengabdian masyarakat, dimana tim ini menginisiasi hasil pertanian berupa labu kuning atau biasa disebut dengan  waluh menjadi campuran mie dengan memberdayakan ibu-ibu di Dusun Sapen RT 01/03 Desa Majasem, Kecamatan  Kendal, Kabupaten  Ngawi. CUMONO sendiri merupakan singkatan dari Cucurbita Moschata Noodle yang lebih familiar disebut Mie Waluh.

Tim pelaksana PKM ini merupakan kolaborasi mahasiswa FISIP dan Fakultas Pertanian yang diketuai Austiva Alma Rahmawati Hasyim dan beranggotakan Herlina, Atika Susillo Putri, dan Alfaradi Krisna Ocsyta. Alasan memilih desa Majasem sebagai tempat pengabdian sebab desain merupakan penghasil labu kuning dan kurangnya kreativitas masyarakat untuk menjual labu kuning dalam bentuk olahan. Dari situlah muncul ide untuk menjadikan labu kuning sebagai olahan khas Majasem berupa mie basah dan mie kering. Tim ini telah melaksanakan kegiatan selama satu bulan sejak 20 April – 11 Mei 2019, dengan berkumpul di salah satu rumah warga tiap minggu di hari Sabtu siang.

Kegiatan yang mereka lakukan meliputi sosialisasi kandungan gizi labu kuning, pelatihan pembuatan mie labu kuning, cara pengemasan,  dan pembentukan kaderisasi untuk keberlanjutan program ini. Pihak dinas koperasi dan usaha mikro, ibu Mujiati pun berkunjung ketempat pelatihan pada 4 Mei 2019  untuk memberikan pemahaman pentingnya inovasi dari bahan di sekitar kita dan memotivasi ibu-ibu desa Majasem untuk berkreasi dengan bahan waluh yang mudah mereka dapatkan. Kepala Desa pun turut bangga dengan adanya inovasi ini dan harapannya bisa meluas kepasaran,  serta dapat memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di desa Majasem.

Menurut Herlina salah satu wakil PKM dari FISIP UNS menyampaikan bahwa proses pembuatan produk mie ini dirasa tidak sulit dan menggunakan alat yang sudah ada di pasaran. Langkah pembuatan diawali dengan menakar bahan pembuat mie yang meliputi labu kuning, tepung terigu berprotein tinggi, tepung tapioka, tepung sagu, garam, dan telur. Dalam proses pembuatan adonannya tidak menggunakan air karena labu kuning sudah memiliki kandungan air yang cukup banyak. Tahap pengolahan labu kuning yakni dikukus sampai matang, kemudian dihaluskan dan peras hingga kandungan airnya berkurang. Adonan labu yang demikianlah yang dipakai untuk campuran pembuatan mie. Campurkan semua bahan kemudian ulen hingga membentuk adonan yang siap untuk dipipihkan sesuai dengan ukuran  ketebalan     mie yang diinginkan dan giling pipihan tersebut menjadi mie. Taburi dengan sedikit tepung agar antar bagian dapat terpisah. Produk mie basah pun telah jadi. Untuk mie kering, memiliki proses lanjutan denganmemasukkanmieke dalam cetakan dan dikukus selama 10-15 menit. Kemudian tiriskan dan siap dijemur. Usahakan pengeringan di bawah terik matahari tidak melebihi pukul 10 pagi, sebab berkaitan dengan kandungan mie labu kuning ini. Masa pengeringan tergantung pada cuaca juga dan setelahnya siap untuk dikemas. (Maryani FISIP UNS)

 

 

 

print