Program Pasca  Sarjana  Ilmu Komunikasi FISIP UNS  Selenggarakan Seminar Nasional “Etika dalam e-PR Politik”

Perkembangan internet baik dalam bidang industri maupun institusi merupakan suatu keharusan di era sekarang ini. Keberadaan merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan saling tergantung dan mempengaruhi. Sebagai suatu alat maka internet terkhusus media sosial merupakan salah satu alat propaganda dalam mempengaruhi audience yang disasar. Media sosial tidak berfungsi untuk menggantikan atau mengubah media yang telah ada melainkan hanya sebagai pelengkap karena perbedaan pengguna dimasing-masing tersebut.

Sebagai bahan pembelajaran terkait media sosial bagi suatu lembaga yang memiliki divisi atau unit tertentu seperti humas atau public relations, Program Magister dan Doktor Ilmu Komunikasi FISIP UNS menyelenggarakan seminar Nasional dengah tema “Etika dalam e-PR Politik”, yang diselenggarakan Rabu, 31 Oktober 2018 mulai pukul 08.30-13.00 WIB di Ruang Sukoharjo Hotel Sahid Jaya Solo. Selain diikuti oleh mahasiswa dan dosen juga dihadiri beberapa peserta konsorsium bidang Ilmu Komunikasi  se-Indonesia yang kebetulan juga dilaksanakan di Kota Surakarta. Kegiatan Seminar Nasional ini menghadirkan tiga narasumber yaitu Prof.  Lusiana Andriana Lubis, Ph.D dari Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Rachmat Kriyantono,Ph.D dari Universitas Brawijaya Malang dan Dr. Andre N. Rahmanto, S.Sos,M.Si,  dari Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Prof Lusiana Andriana Lubis, dalam paparan singkatnya menyampaikan fenomena yang terjadi saat ini bukan hanya suasana panas menjelang digelarnya Pilpres 2019 , tetapi juga fenomena lain yang terjadi  di masyarakat seperti maraknya berita hoax, menyebarnya kenakalan remaja, bahaya narkoba yang membutuhkan penanganan segera bukan hanya pihak pemerintah saja melainkan juga peran serta masyarakat tak terkecuali  partisipasi “emak-emak” yang bisa memberi dampak langsung terhadap era perpolitikan nasional lewat kesadaran dan pembelajaran tentang cara berpolitik yang sehat, santun dan    beretika. Beliau menambahkan apa potensi dan kontribusi emak-emak tersebut yang telah dilakukan selama ini yaitu dengan memanfaatkan momentum dengan cara mengajak atau mempengaruhi orang lain agar cerdas dalam berpolitik karena respon dimasyarakat terjadi begitu cepat dengan jangkauan pasar yang tidak terbatas serta penggunaan media yang interaktif tidak bersifat satu arah lagi.

Ada beberapa fenomena lain yang saat ini hilang  di masyarakat Indonesia sehingga menimbukan rasa tidak aman dan nyaman, Prof Lusiana kemudian menukil salah satu ayat dalam al Quran surat al Hujurat tentang  anjuran  dan perintah Tuhan (ALLOH)  terkait jangan suka mengolok-olok orang lain karena belum tentu yang diolok-olok lebih jelek dari si pengolok-olok, jangan senang mencari kesalahan orang lain, jauhi sifat berprasangka, jauhi sifat bergunjing, larangan senang  suka mencela,larangan  memberi julukan yang buruk, bertabayun atau sikap konfirmasi terhadap masalah yang dihadapi serta bersikap adil dengan kondisi yang ada.

Disisi lain Rachmat Kriyantono, Ph.D menyampaikan perlunya keseimbangan fungsi sosial  di masyarakat melalui sinergitas antara agama, pancasila dan local wisdom. Indonesia memiliki landasan kuat dalam keberagaman ras, suku dan agama dimana dari dulu sudah  muncul rasa saling menghargai dan menghormati diantara kepercayaan yang berbeda dengan tetap berpegang teguh pada keyakinan masing-masing.  Dengan perkembangan teknologi seperti internet masyarakat dapat secara mudah mendapatkan informasi dari banyak pihak, bagi sebagian masyarakat tertentu hal ini menimbulkan keegoisan dan sentimen berlebihan terhadap sesuatu yang berbeda.  Karena informasi tidak bersifat sentralistik tetapi sudah terdesentaralisasi, setiap orang dapat memproduksi informasi. Dan generasi muda termasuk salah satu korban yang dapat dengan mudah dipengaruhi. Rachmat Kriyantono mengambil beberapa data terkait pengguna internet di Indonesia paling banyak dilakukan oleh mereka yang berusia 18-24 tahun dimana di tahun mendatang mereka adalah generasi penerus bangsa, apabila mereka mendapatkan paparan yang tidak sesuai dengan  cita-cita bangsa Indonesia apa jadinya Negara Indonesia ini nantinya.

Sedangkan Dr. Andre Rahmanto menjawab beberapa pertanyaan peserta seminar menyatakan bahwa istilah e-PR atau cyber PR pada dasarnya sama dan hanya istilah saja yang membedakan. Seperti halnya sosial media hanya satu alat (tools) yang bisa digunakan untuk mempengaruhi oran lain. Bagi generasi  muda keberadaan media sosial merupakan hal utama, untuk itu perlu dipikirkan bagi humas atau public relations di perusahaan atau instansi bagaimana cara yang efektif agar apa yang disampaikan dapat sampai kepada audiens atau masyarakat yang disasarnya. Bagi instansi pemerintah peran humas atau PR menjadi penting terkait pelaporan kinerjanya kepada masayarakat  yang harus dapat dipertanggungkawabkan  sehingga tercapai akuntabilitas dan tranparansi  lembaga, serta  meningkatnya partisipasi public dalam ikut mengawasi jalannya instansi tersebut. (Maryani FISIP UNS)

print