Prodi Hubungan Internasional dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia Kerjasama Selenggarakan Kuliah Pakar dan Bedah Buku

Prodi Hubungan Internasional (Prodi HI) FISIP UNS bekerjasama dengan Yayasan Pustaka Obor Indonesia telah sukses menyelenggakan kuliah pakar dan bedah buku bersama dua narasumber dari luar negeri  yaitu Gerry Van Klinken dan  Ward Berenschot.  Gery Van Klinken merupakan pakar di bidang Asia Tenggara,  merupakan Indonesianis, professor mengenai Southeast Asian history Universitas Amsterdam. Sedangkan Ward Berenschot adalah indonesianis dari KITLV Leiden Belanda yang merupakan pakar di bidang demokrasi, Citizenship, Identitas dan Klientelisme. Kedua Pakar ini  telah merampungkan banyak buku, salah satunya yang akan menjadi topik pembahasan seminar  pakar adalah Citizenship In Indonesia dan Democracy For Sale. Kegiatan ini dilaksanakan Selasa, 23 April 2019 di Aula FISIP UNS mulai pukul 09.00-11.30 WIB dan diikuti oleh para akademisi dan mahasiswa tak kurang dari 150 orang.

Dalam paparannya Gery Van Klinken,  Beliau menukil pendapat Aristoteles tentang citizen. Citizen adalah orang yang ikut mengambil perintah dan diperintah. Maka dari  itu pengertian “politik adalah perebutan kekuasaan diantara para elit” merupakan hal yang berbeda sekali dengan konsep Citizenship dimana tidak hanya elit saja yang dilihat dalam politik, tetapi non-elit pun juga terlibat di dalamnya. Apa bila tidak ada perbedaan antara siapa yang memerintah dan siapa yang diperintah, maka timbullah subjektifitas politik yang istimewa, bebas, dan tidak takut sehingga berkembang konsep kesemerataan dan perlunya untuk mengontrol kekuasaan yang menjadi jendela untuk membicarakan politik.

Dalam bukunya   Citizenship In Indonesia, Prof Gerry mengibaratkan bukunya sebagai  kaca atau cermin yang terkait dengan peta politik di Indonesia bukan hanya persoalan terit dengan e-Kartu Tanda Penduduk, dan tata  kewarganegaraan saja melainkan juga berkaitan dengan seluruh proses partisipasi politik yang dilalui,   seperti protes, tuntutan, masukan, kritikan dan sebagainya. Buku ini juga berhubungan dengan topik-topik siap saja actor yang menjadi komunitas insklusif dan eksklusif di Indonesia sendiri. Beliau berharap dengan terbitnya buku ini diharapkan  dapat membangun rasa kebersamaan  disemua warga Negara Indonesia menggingat bangsa Indonesia merupakan Negara dengan suku, ras, agama, yang sangat berbeda dan memiliki banyak keragaman.

Sedangkan Ward Berenschot dalam bukunya Democracy For Sale memaparkan tentang  dimensi informal dalam politik Indonesia yang disebut dengan Klientelism yang dapat diartikan sebagai simbiosis mutualisme atau tukar kepentingan. Praktik ini dapat dikatakan sebagai money politic dan sering sekali terjadi dalam periode pemilu khususnya di Indonesia yang dilakukan oleh Tim Sukses masing masing partai untuk memenangkan calon yang diusungnya.

Ward juga menyampaikan bahwa  buku ini berisi tentang praktek-praktek politik yang terjadi bukan hanya yang nampak saja, melainkan  juga terkait strategi kampanye, tuntunan  para calon, bisnis, tim sukses termasuk kinerja kampanye terkait tatanan kampanye itu sendiri. Di Indonesia baru saja ada proses pemilihan umum, Beliau mengapresiasi positif terhadap pelaksanaan pemilu tersebut,  walaupun dibeberapa daerah masih terlihat praktek-praktek money politik  tetapi kualitas secara luas  tentang pelaksanaan pemilu yang baru saja dilaksanakan di Indonesia terbilang sukses dengan jumlah pemilih dan tempat pemungutan suara (TPS)  yang sangat banyak dan dalam jangkauan luas dapat berjalan secara  aman dan terkendali. (Maryani FISIP UNS)

print