Prodi D3 Vokasi Komter  FISIP UNS Bekerjasama dengan MPR RI Adakan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI

Nilai-nilai  bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila, Undang-undang Dasar 1945 serta Ketetapan MPR, Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhineka Tunggal Ika sebagai nilai dan norma yang  termaktub dalam empat pilar MPR RI harus dipahami secara luas oleh  masyarakat sehingga nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dapat menjadi suatu kebutuhan.

Sebagai salah satu bagian dalam menyebarluaskan empat pilar MPR RI tersebut, Prodi D3 Vokasi Komunikasi Terapan FISIP UNS Bekerjasama dengan satu satu bagian anggota DPD MPR RI Dapil Jawa Tengah KGR Ayu Koes Indriyah  mengadakan  Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang dilangsungkan di Aula FISIP UNS Gedung 1 Lantai 2 FISIP UNS mulai pukul 09.00-12.30 WIB. Selain diikuti mahasiswa kegiatan ini juga dihadiri oleh sivitas akademik UNS. Lebih dari 200 orang antusias mengikuti acara demi acara.

Dr. Kristina Setyowati,M.Si sebagai wakil dari Pimpinan FISIP UNS menyampaikan terima kasih  atas kepercayaan dari perwakilan MPR RI yang telah mempercayaan FISIP UNS sebagai penyelenggara acara Sosialisasi di Lingkungan UNS ini. Hal ini bisa berdampak positif bagi FISIP dan UNS secara luas terhadap posisi UNS sebagai kampus benteng Pancasila.

Sedangkan  KGR Ayu Koes Indriyah, dalam pemaparan materinya mengucapkan terimakasih  atas kepercayaan generasi muda generasi mileneal di Jawa tengah yang telah mempercayakan pilihannya kepada beliau sebagai anggoa DPD MPR RI periode 2019-2024. Beliau mengingatkan kembali generasi muda di Indonesia  jangan pernah melupakan sejarah berdirinya Negara Kesatuan  Republik Indonesia yang teak lepas dari peran pahlawan nasional maupun peran serta Keraton  Kasunanan Surakarta dan Keraton Mangkunegaran dalam ikut membebaskan Indonesia dari para penjajah.  Hal ini bisa ditelusuri dalam sejarah Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) hingga PPKI  yang menggerakkan kalangan ningrat berperan aktif. Hanya saja karena ada tradisi Keraton di Solo berganti nama  dari sejak kecil hingga dewasa menyebabkan kurang dikenalnya para pewaris keraton tersebut bagi pemerintah Bangsa Indonesia, termasuk Ayah Beliau Kangjeng Gusti Pangeran Haryo Purboyo yang memiliki nama lain Raden Mas Surya Guritna dan setelah menjadi  pewaris kerajaan  bergelar Pakubuwana XII dan  dijuluki Sinuhun Hamardika.

Beliau berpesan generasi muda  khususnya jangan pernah meninggalkan dan melupakan sejarah bangsa, karena Indonesia adalah bangsa besar yang harus mengenang dan mengisi kemerdekaan melalui kegiatan positif termasuk didalamnya mengenal kebudayaan bangsa sendiri dibandingkan dengan kebudayaan asing yang terkadang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. (Maryani FISIP UNS)

print