Perkuat Kerukunan, Unit Kegiatan Keagamaan FISIP Adakan  Diskusi Lintas Agama

Indonesia adalah negeri dengan penuh keberagaman, baik dilihat dari ras, agama, suku bangsa, budaya, bahasa dan masih banyak keberagaman lain. Namun hal ini tidak lantas  menjadikan bangsa Indonesia menjadi terpecah belah. Hal diatas sudah menjadi kesadaran bersama dan menjadi semboyan bangsa Indonesia dengan Bhineka Tunggal Ika yang artinya  berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Melihat banyaknya keberagaman ini, beberapa unit keagamaan di FISIP UNS, seperti Lembaga Kegiatan Islam (LKI), Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) dan Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) FISIP UNS menyelenggarakan  kegiatan  Bersama yang dibalut dalam bentuk   diskusi lintas agama   dengan tema Peran Agama Dalam Membangun Bangsa. Diskusi ini dilaksanakan di Aula FISIP UNS pada hari  Senin, 23 September 2019, mulai pukul  15.00 – 17.45 WIB dengan pembicara : Dr. Mohammad Muchtarom, S.Ag.,M.Si.;  Sri Hastjarjo, S.Sos., Ph.D. dan  Drs. Ign. Agung Setyawan, S.E., S.Ikom., M.Si., Ph.D. dan dibuka oleh Dekan FISIP UNS, Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si.

Dr. Mohammad Muchtarom, S.Ag.,M.Si. sebagai pembicara di sesi pertama menyampaikan materi terkait keberagaman di Indonesia. Beliau  menuturkan   bahwa bangsa Indonesia diibaratkan sebagai kebun bunga yang memiliki banyak jenis dan ragam warna serta bentuknya,  tetapi dapat disatukan dengan semangat dan harmonisasi yang indah, hal ini yang melandasi semangat jiwa sumpah pemuda  saat itu yang salah satunya dipelopori oleh para tokoh agama. Namun saat ini semangat tersebut sedikit terusik dengan berkembangnya banyak informasi yang tidak dapat ditelusuri kebenarannya. Jika informasi yang tidak benar ini diyakini banyak orang, maka  dapat menimbulkan kebencian  dan  terpecah belahnya  nasionalisme bangsa Indonesia. Dr. Mohammad Muchtarom  menyampaikan dalam ajaran  islam diajarkan bagi   para pemeluknya untuk ber-tabayyun atau mencari kebenaran atas  berita-berita yang mereka terima  sebagai salah satu solusi mengurangi hoax  atau berita bohong.

Di sesi kedua Sri Hastjarjo, S.Sos., Ph.D. menyoroti cara pandang  seseorang mengenai agama  diantaranya  tentang perintah untuk tunduk kepada pemerintah yang sedang berkuasa (roma 13:1a), tidak ada pemerintah tanpa seijin tuhan (13:1b), Pemerintah merupakan alat tuhan untuk menegakkan kebenaran/keadilan-Nya (13:4),  Pemerintah sama dengan  orang tua (walaupun tidak sesuai dengan keinginan, masih tetap dilakukan) serta sikap hati yang tunduk dan bukan  ketaatan yang membabi buta.  Sebagai  konsekuensi dari cara pandang tersebut  maka  seseorang harus melakukan kewajiban sebagai warga negara, misalnya membayar pajak, taat aturan, dan sebagainya (rom 13; 6,7), mengusahakan kesejahteraan masyarakat dimana umat tuhan berada (Yer. 29:7a), dan harus mendoakan pemerintah dan masyarakat setempat (Yer. 29 : 7b) agar menjadi berkat bagi orang lain dan bagi dunia.

Materi ketiga disampaikan oleh Drs. Ign. Agung Setyawan, S.E., S.Ikom., M.Si., Ph.D. Beliau menyoroti tentang konsekuensi UNS yang diharapkan mampu menjadi  kampus benteng Pancasila dengan bukti banyak rumah ibadah di area kampus  dalam arti menghargai adanya  keberagaman. Bagaimana aplikasi dari rumah ibadah  yang diibaratkan sebagai simbol jika penghuninya tidak bisa bersatu.  Beliau berpesan dari diskusi lintas agama yang diinisiasi oleh unit keagamaan di FISIP UNS ini  dapat menghapus kesalahpahaman dan mendiskusikan sesuatu hal yang belum di ketahui sehingga dapat membuka wawasan sekaligus mencegah dampak dari timbulnya hoax maupun sentiment beragama.  (Maryani FISIP UNS) (Foto : Alif panitia)

 

 

print