Pembelajaran Penerapan Kurikulum 4.0,  FISIP UNS  Undang Narasumber dari Universitas Dalam dan Luar Negeri

Kurikulum program studi selayaknya ditinjau secara periodik guna menyesuaikan dengan  tuntutan dan perubahan sosial yang ada  dimasyarakat   berdasarkan perkembangan dalam  ilmu-ilmu sosial. Banyak tantangan Ilmu-ilmu Sosial di era masyarakat digital. Ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi mempelajari aspek societal dari perkembangan digitisasi bagaimana masyarakat berubah dan diubah oleh teknologi hal ini disampaikan Dr. Suharko saat memaparkan materi dalam acara Workshop Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi 4.0 untuk Ilmu Sosial (Penerapan di Indonesia) yang diselenggarakan oleh FISIP UNS.

Hadir sebagai narasumber lain dari Universiti Sains Malaysia, Nik Normah Nik Hasan, Ph.D.  dengan  moderator Dr. Trisni Utami,M.Si. Workshop kurikulum ini di laksanakan Senin, 28 Oktober 2019 di Ruang Seminar FISIP UNS mulai pukul 09.30-12.30 WIB,   diikuti oleh dosen  dan admin Prodi  yang ada di FISIP UNS.

Dalam sambutannya Wakil Dekan Bidang Akademik, Dra. Prahastiwi Utari, M.Si, Ph.D menyampaikan  kegiatan workshop ini dilaksanakan dengan tujuan agar  dosen dan admin mendapatkan pembelajaran  sekaligus sharing terkait penerapan  kurikulum  di era 4.0 serta  pembelajaran   blended learning yang ada  di Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan Universiti Sains Malaysia di Malaysia. Selain itu acara ini juga dimaksudkan agar dapat  menginspirasi para Kepala Program Studi  bagaimana memulai menerapkan blended learning yang sudah menjadi sesuatu yang diwajibkan di Universitas Sebelas Maret (UNS), terkait pengalaman  dalam  penerapan kurikulum di era 4.0. Fakultas ISIP UNS mencoba mewadahi  bagaimana  sivitas FISIP  tidak hanya dapat melihat hal-hal  yang bersifat teknis tetapi juga dapat   memberikan pengalaman sehingga bisa digunakan untuk mempersiapkan kurikulum program studi   selanjutnya di FISIP UNS.

Dr. Suharko juga menyampaikan  bahwa  dalam Ilmu-ilmu sosial tidak mengharuskan penguasaan seluruh aspek teknis dari teknologi informasi  karena bisa diserahkan pada bidang ilmu lain tetapi  sejauh mana Perguruan tinggi, fakultas, departemen, prodi dan  supporting systemnya mampu mengembangkan kemampuan akademik dan kompetensi mahasiswa  untuk  memahami digital/IT based society yang pada  akhirnya  mampu menghasilkan para lulusan yang yang berkarakter.

Nik Normah Nik Hasan, Ph.D  dalam paparannya membuka  dengan pertanyaan menggelitik terkait akankah program studi media dan komunikasi akan terus  bertahan?. Beliau  menyampaikan bahwa Universiti Sains Malaysia atau disingkat USM adalah universitas yang  intensif melakukan  penelitian transdisipliner perintis yang memberdayakan bakat masa depan dan memungkinkan  untuk mengubah kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat. Proyek ini telah  diinisiasi  tahun 2007  sebagai salah satu dari  lima Universitas Program  Riset yang dipersiapkan untuk memacu penelitian, pengembangan, dan inovasi bangsa

Di akhir sesi moderator, Dr. Trisni Utami menyimpulkan bahwa di   Era 4.0 kita tidak dapat belajar lagi dengan ego keilmuan bidang ilmu masing-maing tetapi harus menggandeng dengan bidang ilmu-ilmu lain untuk melihat  eksistensi dari sebuah kerja-kerja kolaboratif keilmuan. Diperlukan pula upaya dalam  mendalami  bagaimana  cara bersikap, dan berperilaku sosial  para generasi mileneal  yang tidak bisa dipaksakan keinginannya sesuai dengan kondisi saat ini  tapi diperlukan ruang-ruang publik  yang lebih luas dibandingkan dengan pembelajaran   ruang-ruang kelas. Selain itu juga diperlukan bekerja dengan berbagai disiplin ilmu merupakan bagian dari pengembangan ilmu sehingga  ilmu-ilmu tertentu saling berhubungan atau bersinggungan bahkan merger dengan mata kuliah  sebagai salah satu skill  para lulusan nantinya. (Maryani FISIP UNS)

 

print