“Literasi Digital dengan Kemasan Seni Tradisional”

Hoaks atau berita bohong,  ujaran kebencian, dan berita negatif lainnya menjadi isu berbahaya yang saat ini melekat dalam kehidupan masyarakat. Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah merilis adanya 453 berita hoaks yang teridentifikasi disepanjang bulan Maret 2019. Berkaca dari fenomena diatas, Anucara Project Event Organizer (EO), salah satu EO karya mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UNS angkatan 2016  dengan menggandeng Kelompok Kesenian Ketoprak Ngampung sebagai penampil (performer) menggelar Acara Kampung  (Asal Ucap Berita, Faktanya masih Terapung-Apung) dengan mengusung tema “Kebak Kliwat Gancang Pincang”.

Tema tersebut diambil dari pepatah Jawa yang artinya seseorang yang tidak berhati-hati akan celaka, sebagaimana orang yang menerima informasi, namun tidak melakukan validasi terhadap informasi tersebut, maka ia akan mudah untuk dibohongi.

Pementasan ketoprak Acara Kampung ini dilaksanakan Jumat, 3 Mei 2019 di Gedung Kesenian Balekambang Surakarta, Jalan Balekambang No.1, Manahan, Banjarsari, Kota Surakarta mulai pukul 19.00 hingga 22.30 WIB. Acara ini diawali dengan pemutaran video yang berisi tentang data-data hoaks yang telah beredar di masyarakat, serta informasi-informasi yang diharapkan dapat membuka wawasan masyarakat terkait literasi digital.

Dalam alur cerita “Kebak Kliwat Gancang Pincang” yang dibawakan,  mengisahkan tentang Pak Wiryo Mangun yang merupakan orang kaya baru di Kampung Riwil. Ia memiliki seorang anak bernama Melati, yang saat itu berpacaran dengan pemuda desa bernama Sukro. Kisah cinta itu tidak direstui oleh orang tua Melati, oleh karena itu Sukro menyebarkan berita hoaks tentang Pak Wiryo. Kisah itu diakhiri dengan keberadaan Ki Demang yang menjelaskan dan meluruskan berita yang simpang siur tersebut.

Menurut Zalita salah satu personal Anucara Project EO, Penggunaan pementasan ketoprak sebagai media penyampai pesan,  diharapkan dapat menjaga kesenian ketoprak agar tetap dekat dengan masyarakat, serta bentuk apresiasi budaya asli Kota Surakarta yang perlu dilestarikan. Selain itu, karakteristik ketoprak yang serius tapi santai diharapkan dapat  membuat masyarakat, dapat  menikmati pementasan, sekaligus menerima pesan tersebut dengan baik.

Acara ini sendiri  menurut Zalita  bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya hoax dan pentingnya literasi digital sehingga  menjadi generasi yang cermat dan melek media dalam mencerna informasi yang berkembang di masyarakat luas. Sorakan dan  tepuk tangan penonton diakhir acara  merupakan salah satu bentuk apresiasi yang diberikan kepada penyelenggara yaitu  Anucara Project bahwa masyarakat dapat menikmati pementasan yang telah disuguhkan. (Maryani FISIP UNS)

print