Kuliah  Pakar Internasional,  Salah Satu Internasionalisasikan FISIP UNS

Senin, 12 Agustus 2019 telah dilaksanakan kuliah pakar internasional  dengan tema Environment and Communication in the 21st  Century and The Next dengan menghadirkan dua narasumber Prof. Michaela Lepke dari University Hamburg Germany dan Prof. Tamim Raad dari University  British Columbia Canada. Kegiatan ini difasilitasi oleh Internasional Office, Tim Internasionalisasi FISIP UNS,  Program Doktor dan Magister Ilmu Komunikasi FISIP UNS. Tak kurang dari 75 orang mengikuti kuliah pakar internasional yang dilaksanakan  di Ruang Seminar Gedung 1 lantai 2 FISIP UNS mulai pukul 09.00-12.30 WIB. Kegiatan ini diapresiasi baik  oleh  mahasiswa program sarjana, magister dan program doktor serta  para akademisi di  UNS

Memasuki universitas berkelas dunia,  saat ini UNS tengah   mengajak semua elemen di sivitas akademiknya untuk  dapat memberikan upaya terbaiknya  termasuk di FISIP UNS. Hal ini disampaikan oleh  Dekan FISIP UNS Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si  saat mengawali acara penyambutan rangkaian kegiatan kuliah pakar internasional di FISIP UNS. Terkait dengan tema yang diangkat Prof.  Ismi menyatakan bahwa secara sederhana, komunikasi lingkungan adalah komunikasi yang berkaitan  dengan segala persoalan terkait  lingkungan,  termasuk semua bentuk keragaman  komunikasi baik  antarpribadi, kelompok, publik, organisasi, dan  komunikasi  sosial yang menyangkut  tentang masalah  lingkungan, dan hubungan manusia dengan alam.

Kuliah pakar internasional yang diselenggarakan bersamaan dengan penyambutan mahasiswa baru Program Magister dan Doktor Ilmu Komunikasi ini juga diharapkan mampu  membawa  banyak keuntungan dalam  program internasionalisasi FISIP UNS di masa depan, dimana salah satunya adalah kolaborasi internasional dalam penelitian, publikasi, dan pertukaran mahasiswa, serta peningkatkan jumlah publikasi di jurnal internasional terkemuka.

Prof Tamim Raad, yang konsentrasi  dalam bidang perencanaan tata kota dan transportasi menyampaikan tentang penyelenggaraan transportasi di daerah Kanada yang mengakomodasi semua kepentingan baik pejalan kaki, pengendara sepeda, maupun alat transportasi lain yang tertata dan terkoordinasi serta terintegrasi.

Sedangkan Prof Michaela menyoroti bagaimana persoalan lingkungan terutama dalam pengelolaan sampah khususnya di Kota Solo. Beliau mengapresiasi cara  pengelolaan sampah yang ada di Kota Solo mulai dari pengumpulan, pengolahan hingga pengelolaan sampah  serta pemasaran hasil daur ulang yang dilakukan. Karena di sebagian kota-kota di Eropa banyak sampah elektronik yang tidak digunakan lagi. Hal inisedikkit berbeda dengan di Indonesia yang umumnya peralatan elektronikyang sudah rusak biasanya akan diperbaiki dengan membeli sparepart baru atau melalui proses penggantian dari peralatan elektronik rusak yang masih baik sparepartnya sehingga otomatis akan dapat mengurangi sampah elektronik  yang ada di Indonesia. (Maryani FISIP UNS)

print