Kuliah Pakar dan  Bedah Buku “Citizenship in Indonesia”  dan “Democracy for Sale”.

 

Kompetensi dosen dan mahasiswa mengenai wawasan hubungan internasional termasuk dalam bidang demokrasi, kewarganegaraan dan identitas suatu bangsa perlu senantiasa dikembangkan termasuk oleh Prodi Hubungan Internasional (Prodi HI) FISIP UNS. Untuk itu Selasa, 23 April 2019, pukul 09.00-11.30 WIB,  Prodi  HI  FISIP UNS telah sukses menyelenggarakan suatu kegiatan “Kuliah Pakar dan Bedah Buku  yang berjudul “Citizenship in Indonesia”  dan “Democracy for Sale”. Acara dilaksanakan di Aula Besar FISIP UNS dengan menghadirkan Gerry Van Klinken dan  Ward Berenschot yang merupakan penulis buku  tersebut dengan moderator Muhnizar Siagian,M.IPol.  Kuliah pakar dan bedah buku ini dihadiri oleh para akademisi dosen dan mahasiswa

Acara dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik FISIP UNS, Drs. Sudarmo, M.A, Ph.D. Dalam sambutannya, Beliau menyampaikan tentang  pentingnya research dan harapannya kedepan dapat mengadakan research kolaborasi di FISIP UNS agar dapat mengambil kebijakan yang pas untuk mengatasi suatu permasalahan, agar terselesaikan. Terkait dengan buku yang akan dibedah beliau mengapresiasi atas kegigihan kedua penulis menyuguhkan buku menarik tentang citizen atau kewarganegaraan dan demokrasi di Indonesia, dengan sudut pandang diluar konteks orang Indonesia. Menuju UNS sebagai PTNBH maka beliau berharap banyak terhadap transfer pengetahuan dan riset kolaborasi antara UNS dengan universitas lain baik didalam maupun luar negeri sehingga akan menghasilkan  publikasi baik dalam bentuk artikel-artikel maupun jurnal.

Sedangkan Kepala Program Studi Hubungan Internasional FISIP UNS, Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA  dalam sambutannya menyampaikan sedikit paparannya mengenai demokrasi yang gagal menurut Woodrow Wilson karena ada konsep Lebensraum Geopolitic yang artinya demokrasi adalah hal yang diperjualbelikan dengan harga yang sangat tinggi. Hal tersebut sudah terjadi di Indonesia dimana praktik money politic yang dilakukan oleh elit politik untuk membeli demokrasi itu sendiri.

Gerry Van Klinken mendapat kesempatan pertama untuk memaparkan ringkasan mengenai bukunya yang berjudul  “Citizenship in Indonesia” . Menurutnya buku ini  merupakan hasil penelitian bersama antara Indonesia-Belanda yang sudah dimulai sejak tahun 2012. Buku tersebut membahas citizenship di Indonesia dengan makna yang lebih luas. Gerry  menghubungkan tema tentang  perempuan, pelayanan kesehatan, serikat buruh, agama, konflik tanah, kewarganegaraan lokal, kewarganegaraan pedesaan, volunteer, imigran, dan kewarganegaraan digital.

Di kesempatan kedua Ward Berenschot  berbicara tentang dimensi politik transaksional yang ada di Indonesia dalam bukunya yang berjudul “Democracy for Sale”. Buku tersebut disusun bersama rekannya, Edward Aspinall. Mereka mencoba fokus pada dimensi informal dalam politik Indonesia yang mencakup jaringan personal, serangan fajar, tukar kepentingan, setor uang, dan lain lain yang memainkan peran besar dalam demokrasi di Indonesia. Memaknai hal tersebut, mereka menyebutnya dengan sebutan Klientelism yang dapat diartikan sebagai simbiosis mutualisme atau tukar kepentingan. Praktik ini dapat dikatakan sebagai money politic dan sering sekali terjadi dalam periode pemilu,  khususnya di Indonesia yang dilakukan oleh Tim Sukses masing masing partai untuk memenangkan calon yang diusungnya. Maka dari itu buku tersebut hadir untuk menjawab seberapa umumkah praktik Klientelism tersebut terjadi di Indonesia dan untuk memjawabnya, Ward menggunakan metode research etnography dalam penelitiannya.  (Maryani FISIP UNS)

print