Kuliah Pakar dan Bedah Buku Agama Jawa : Separuh Abad Pasca Clifford Geertz

Bertempat di ruang Seminar FISIP UNS,  Prodi S1 Sosiologi FISIP UNS kembali menggelar kegiatan kuliah pakar dan bedah buku dengan tema Agama Jawa : Separuh Abad Pasca Clifford Geertz hasil karya  Amanah Nurish, Ph.D sekaligus pemateri dan narasumber dalam kegiatan ini.  Kuliah pakar diselenggarakan Rabu, 9 Oktober 2019 mulai pukul 09.00-12.30 di Ruang Seminar FISIP UNS dan dihadiri lebih dari 75 peserta baik dari program sarjana maupun magister dari FISIP dan luar FISIP UNS.

Acara yang dibuka oleh Kepala Prodi Sosiologi FISIP UNS, Dr. Argyo Demartoto,M.Si ini merupakan salah satu kegiatan untuk meningkatkan iklim akademik bagi sivitas akademik FISIP UNS terkait pembelajaran  matakuliah Sosiologi Agama bagi mahasiswa  Prodi Sosiologi FISIP UNS khususnya Angkatan 2017 atau semester 7.  Mahasiswa diberi pemahaman terkait perkembangan beberapa agama dan aliran kepercayaan termasuk didalamnya perkembangan adat istiadat dan kebudayaan yang berkembang di Indonesia pada masa lalu hingga saat ini.

Dalam paparannya narasumber Amanah Nurish yang berprofesi sebagai pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Indonesia menyampaikan bahwa buku ini berbicara mengenai refleksi  terkait penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh seorang peneliti dan antropolog asal Amerika Serikat, Cliford Geertz membuat penelitian yang akhirnya dibukukan dalam buku yang berjudul  Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Dimana dalam buku Geertz menyebutkan tentang tiga tipe budaya yang berada di kota Mojokuto, Jawa Timur  yaitu 3 golongan yang berada di Mojokuto yang mempengaruhi sistem keagamaan dan kebudayaan di kota tersebut, 3 golongan tersebut adalah Abangan, Santri, dan Priyayi. Pembagian ini menurut Geertz, merupakan pembagian yang dibuat oleh orang-orang Jawa sendiri Abangan, Santri, dan Priyayi walaupun masing-masing merupakan struktur sosial yang berlainan, tetapi masing-masing saling melengkapi satu sama lainnya dalam mewujudkan adanya sistem sosial Jawa yang berlaku umum.

Dalam analisisnya Amanah Nurish menyampaikan perkembangan agama jawa yang muncul mulai dari  masa dahulu, masa pra kolonial, masa kolonial, masa nasakom, masa orde baru, masa reformasi hingga saat ini. Dari perkembangan yang ada narasumber menyampaikan bahwa saat ini telah terjadi polarisasi keagamaan  yang luas hingga berdampak pada  hilangnya orang-orang abangan yang nyata. Karena agama merupakan keyakinan atau jalan hidup tentang simbol-simbol tertentu.

Dalam kepercaaan atau agama Jawa dikenal tentang pitutur dan penghayat yang apabila dijalankan dengan baik akan terjadi perdamaian. Tapi karena ada regulasi dari pemerintah kolonial saat dulu,  menyebabkan agama atau kepercayaan yang telah dianut sebelumnya terakulturasi dalam agama yang diakui oleh negara saat ini.  Amanah Nurish juga menyebutkan bahwa saat ini golongan abangan terbagi dalam dua kubu yaitu abangan agamis artinya bahwa ada masyarakat tertentu yang dulu dianggap kaum abangan tapi telah menjalankan keyakinannya walaupun dengan pemahaman keilmuan keagamaan yang terbatas dengan kaum abangan deterministik yang diartikan sebagai kejawen murni.  (Maryani FISIP UNS)

print