KMAP Bersama P3G UNS, Kampanyekan Aksi Tolak Kekerasan Terhadap Perempuan

Pusat Penelitian & Pengembangan Gender (P3G) LPPM UNS bekerjasama dengan Keluarga Mahasiswa Administrasi Publik (KMAP) FISIP UNS menyelenggarakan Seminar Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan pada Rabu, 5 Desember 2018  di Aula FISIP UNS, pukul 13.00-17.00 WIB. Acara seminar ini  diikuti oleh 150 peserta dari mahasiswa UNS dengan pembicara Dr. Phil. Dewi Candraningrum aktivis Jejer Wadon Solo. Acara seminar ini sebagai upaya pendidikan perspektif gender untuk para peserta dan peningkatan kesadaran kesehatan seksual & reproduksi serta kesadaran akan bahaya kekerasan berbasis gender yang terjadi di lingkungan sekitar.

Hal ini dilatarbelakangi dengan realita akan meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan yang patut menjadi perhatian penting bagi seluruh pihak. Komnas Perempuan mencatat pada 2014 terdapat 4.475 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan, 2015 sebanyak 6.499 kasus, 2016 sebanyak 5.785 kasus dan pada 2017 tercatat ada 2.979 kasus kekerasan seksual di ranah KDRT atau relasi personal serta sebanyak 2.670 kasus di ranah publik atau komunitas. Catatan dari Media Tempo menunjukkan sepanjang tahun 2018 jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia mencapai 12.867 kasus. Dari 12.867 kasus sebanyak 10.552 terjadi di pihak perempuan. Angka yang tidak kecil untuk sebuah masalah publik, khususnya dalam hal isu pembangunan gender.

Seminar yang dilaksanakan ini  juga dimaksudkan sebagai  kampanye publik penolakan kekerasan terhadap perempuan dengan pengumpulan 150 tanda tangan dalam poster HAKTP P3G LPPM UNS, mengingat di akhir tahun 2018 ini kasus kekerasan seksual terhadap perempuan terhadap Baiq Nuril dan #KitaAgni di Universitas Gadjah Mada menyita perhatian publik.

Dalam releasenya Tiyas Nur Haryani, S.Sos, M.Si yang juga dosen di Prodi Ilmu Administrasi Negara menyampaikan bahwa kekerasan seksual terhadap perempuan memiliki dampak jangka panjang bagi korban yang jarang diketahui oleh publik, di mana kondisi korban mengalami dua kali kekerasan yakni kekerasan seksual dan kekerasan psikis sebab hukum yang belum tegak menegakkan keadilan bagi perempuan korban kekerasan.

Dengan terselenggaranya Seminar dengan tema “Hari Anti Kekekarasan Terhadap Perempuan (HAKTP) : Narasi Perlawanan Segala Bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan” yang juga  merupakan rangkaian dari 16 hari kampanye HAKTP diharapkan mampu meningkatkan kesadaran publik akan pentingkan perlawanan dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Pencegahan kekerasan merupakan tanggungjawab bersama bukan hanya individu sebagai entitas terkecil dalam suatu wilayah, melainkan harus dibangun bersama  keluarga merambah ke masyarakat hingga bangsa dan Negara. (Maryani FISIP UNS)

 

 

 

print