Kenang Semangat Konferensi Asia Afrika, Prodi Hubungan Internasional Selenggarakan Bedah Buku

Enam Puluh empat (64) tahun yang lalu, sebanyak 29 negara yang mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia pada saat itu mengirimkan wakilnya untuk mengikuti Konferensi Asia Afrika (KAA) yang dilaksanakan dari tanggal 18-24 April 1955 di Kota Bandung Indonesia. Konferensi yang  dilaksanakan  di Gedung Merdeka Bandung tersebut  bertujuan  untuk mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme dan neokolonialisme saat itu. Sebagai bahan pembelajaran generasi muda terutama mahasiswa tersebut tentang semangat yang muncul dalam konferensi tersebut, Prodi Hubungan Internasional  (Prodi HI) FISIP UNS mengadakan  acara yang dikemas dalam Bedah Buku dan Diskusi Warisan KAA Bagi Kebudayaan Dunia bersama penulis buku  “Konferensi Asia Afrika”  Wildan Sena Utama dengan  Muhnizar Siagian, dosen Hubungan Internasional sebagai pembahas  bukunya.

Bedah buku ini dilaksanakan Kamis, 18 April 2019 di Ruang Aula  FISIP UNS gedung 1 lantai 2 mulai pukul 13.00-15.30 WIB dan diikuti lebih dari 100 peserta terdiri dari mahasiswa dan dosen. Bedah buku dan diskusi ini juga bertujuan untuk  memperingati hari  Konferensi Asia-Afrika  yang melahirkan Dasasila Bandung dan mampu mengangkat eksistensi negara-negara Asia Afrika  dalam percaturan politik global.

Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA  selaku Kepala Prodi HI  dalam sambutannya  membuka  dengan memutar  video terkait suasana dan pelaksanaan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung.  Hal ini bertujuan  agar para peserta dapat  mengenang kembali sejarah perjalanan terbentuknya Konferensi Asia Afrika. Beliau menambahkan  bahwa KAA telah menginspirasi pengembangan  studi hubungan internasional. Prof Andrik menjelaskan salah satu konsep  spiritualisme dalam Prodi Hubungan Internasional berasal dari  Madam Zavlaski, yang menyatakan bahwa, “dunia didasarkan pada kesetaraan & kesederajatan”,  dan Asia Afrika adalah arena hubungan keluarga besar dengan berbagai perbedaan yang sepakat menolak kolonialisme dan imprealisme, human brotherhood, persaudaraan sesama manusia.

Bagi Wildan Sena Utama ini merupakan  acara bedah  buku dan diskusi terkait  KAA yang kedua di Prodi HI FISIP UNS. Untuk itu Beliau menambahkan  KAA dari sudut  pandang lain yang berbeda. Diantaranya peran perempuan dan kebudayaan  dalam KAA. KAA yang  dinafikan merupakan panggung maskulin para anti kolonial mampu  dipoles melalui  posisi perempuan- perempuan yang  berada disisi panggung dan berkontribusi pada acara-acara diluar acara resmi KAA. Salah satu diantaranya adalah seksi perempuan komite rakyat Jawa barat yang beranggotakan 42 organisasi wanita mengorganisasi acara-acara pertunjukan kebudayaan, pameran souvernir dan produk kebudayaan dan acara-acara diplomasi kebudayaan. Kebudayaan Asia Afrika telah terekam dalam  pertukaran kebudayaan, akuisisi pengetahuan dan pertukaran informasi.

Menurut  Wildan, Spirit Bandung telah memperkaya wawasan penstudi Hubungan internasional, bukan hanya  kajian mengenai KAA  itu sendiri  melainkan juga  mampu membangun  jaringan transnasional yang mendorong jaringan aktivis budaya Indonesia dan luar negeri terbentuk, seperti jaringan sastrawan Asia Afrika, juga agenda festival film Asia Afrika. Selain itu daya imaginasi kolektif dan proyek kebudayaan dunia ketiga, mampu  membawa dampak  meningkatnya tatanan dunia yang lebih ideal bagi umat manusia sekaligus mendorong proyek proyek kolaborasi dunia ketiga untuk mewujudkannya.

Bandung  telah menyediakan fondasi lintas benua bagi aktivis Asia Afrika untuk memiliki kesempatan dengan mendorong berbagai jaringan transnasional yang memfasilitasi berbagai macam proyek di dunia ketiga.  Berkaca dari itu  Wildan menyebutkan  banyak sekali hal-hal yang masih bisa dikaji dan  diteliti dari KAA 1955 itu sendiri, beserta seluruh tantangan  pengelolaan arsip nasional untuk mendukung data-data yg berguna untuk pengkajian lebih komprehensif baik yang ada di dalam maupun luar negeri.

Sedangkan Muhnizar Siagian sebagai  pembahas menyampaikan bahwa KAA 1955 merupakan puncak dari upaya yang sejak lama diupayakan berbagai tokoh Asia Afrika untuk mengatakan kepada dunia bahwa “masyarakat asia afrika juga berhak menentukan arah politik dunia yang semakin humanis” karena sebelum peristiwa KAA 1955, politik dunia didominasi eropa yang telah melahirkan kolonialisme dan imprealisme di kawasan asia afrika. Bagi Muhnizar, peristiwa ini harus menjadi inspirasi untuk membangun studi sosial  politik humaniora yang bernafaskan masyarakat asia afrika, bukan hanya membawa teori teori dari eropa, yang terkadang bias dan tidak cocok untuk masyarakat di Asia Afrika.  (Maryani FISIP UNS)

print