Jurnalisme Data,  Bagaimana Jurnalis Membangun Cerita Dengan Menggunakan Big Data

Saat ini banyak data yang disajikan dari berbagai media online atau media sosial yang dapat diakses dan digunakan sebagai data-data penelitian lanjutan. Namun demikian keberadaan data yang banyak tersebut memerlukan  narasi karena data belum menunjukkan narasi sebuah informasi yang dapat dimengerti oleh public. Hal ini disampaikan oleh Nik Norma Nik Hasan, Ph.D dari  School of Communication Universiti Sains Malaysia dalam Visiting Lecture Big Data Kontribusinya Dalam Penulisan  Artikel Jurnal yang diselenggarakan oleh Prodi S2 Sosiologi FISIP UNS, Senin, 28  Oktober 2019 di uang Seminar FISIP UNS.

Peserta kegiatan visiting lecture ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa dari Prodi S2 Sosiologi  saja tetapi juga diikuti oleh mahasiswa Prodi S2 Ilmu Komunikasi FISIP UNS serta dosen di program studi yang ada di FISIP UNS. Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Dekan Bidang Akademik Dra. Prahastiwi Utari,M.Si, Ph.D dan Kepala Prodi S2 Sosiologi, Dr. Trisni Utami, M.Si

Dalam paparannya Nik Norma Nik Hasan, Ph.D  menyampaikan beberapa contoh terkait  kasus perubahan iklim dengan menggunakan emosi manusia melalui  apa yang dapat dilakukan jurnalis dengan banyaknya data yang tersedia.  Ditambah data yang dapat diakses lewat  digitalisasi informasi yang  terkadang sulit untuk diartikan, ditafsirkan dan digunakan sehingga ada narasi yang jelas dari jurnalisnya.

Berita sebagai produk jurnalis dibangun dengan cermat melalui  media yang  memiliki bahasa sendiri dan mewakili pandangan tertentu  sehingga jurnalisme data merupakan  kombinasi dari pengumpulan berita tradisional dan digital,proses pelaporan dan sumber daya untuk menceritakan kisah yang menarik. Mengapa menggunakan jurnalisme data karena para jurnalis mencoba menciptakan makna terhadap tema yang diangkat misalnya  perubahan iklim dengan menghubungkannya dengan peristiwa lain di kisah cerita seseorang.

Beliau menambahkan bagaimana seseorang dapat memahami data yang ada,  hal ini dikaitkan dengan proses mendapatkan data untuk menemukan berita yang layak diberitakan,  selalu berusaha manfaatkan data  tanpa melihat  seberapa kecil atau besar data yang diperoleh untuk mendapatkan  gambaran tema  yang lebih besar melalui  foto, bagan, video, dan music karena  orang lebih mau terlibat dengan visual dan gambar daripada dengan teks yang mengandung informasi kompleks,  dengan menggunakan jurnalisme data untuk menyederhanakan, mengontekstualisasikan, dan menjelaskan kompleksitas pelaporan tema penelitian yang dilakukan. (Maryani FISIP UNS)

print