Dekan FISIP UNS Memberi Orasi Ilmiah  dalam Silaturohim Tahunan 2019

Era transisional  di Indonesia meliputi empat era yang  diawali dengan era demokrasi, era industrialisasi, era  perilaku, dan era  ideologi dan politik,  yang bersatu dan menimbulkan permasalahan yang tidak mudah, serta  memerlukan solusi serius semua pembuat kebijakan. Pernyataan ini disampaikan oleh Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si sekaligus Dekan FISIP UNS dalam Orasi Ilmiah Silaturohim Awal Tahun 2019. Kegiatan ini dilaksanakan di Auditorium UNS,  Rabu, 2 Januari 2019 mulai pukul 09.30-11.30 WIB.

Di Era demokrasi, Prof Ismi biasa disapa  memaparkan, ada empat tahap yaitu demokrasi rakyat langsung, demokrasi perwakilan, demokrasi langsung perwakilan, dan demokrasi de liberatif. Ada loncatan demokrasi di Indonesia dari tahap satu ke tahap keempat dimana dengan adanya media sosial maka akan berbeda dan berpengaruh sangat luas yang ditandai dengan  bagaimana sebuah isu yang ada dibuat menjadi sebuah kebenaran tanpa melihat kebenaran itu sendiri. Hal ini berpengaruh pula terhadap pola perilaku dan dan pemikiran  masyarakat yang diawali dengan tradisional agraris, perilaku  modern dan postmodern dimana  di era ini kebenaran tergantung pada siapa pembuat isu kebenaran.

Dimasa postmodern tersebut ada masa transisi teknologi dengan  melihat adanya  pergeseran era awal ke era empat dimana fungsi manusia mulai digantikan oleh robotik, internet dan median sosial lain  yang tak jarang dapat menyebabkan kegaduhan di masyarakat. Untuk itu, sebagai antisipati  dan konsolidasi sosial sivitas akademik  dikaitkan dengan kurva logistik menghadapi masa transisi dikaitkan dengan perkembangan UNS maka perkembangan internet sebagai alat komunikasi dan sumber informasi menjadi penting ,  cepat dan setiap orang akan ikut berproses, agar tidak ketinggalan jaman melalui proses pembelajaran berbasis  teknologi informasi  yang professional lewat pengelolaan data yang telah dimiliki.  Hal ini bisa dilakukan lewat adaptasi dan adopsi  yang ada.

Dan dalam rangka menyambut tahun politik  tansisional Indonesia, Prof. Ismi menyampaikan seorang pemimpin yang baik adalah  pimpinan yang mampu menjadikan kehadirannya  dapat  membangun sinergi politik ideologi, isme-isme dan politik kelompok-kelompok  tertentu serta mampu mewujudkan empat  moralitas nasional yaitu melindungi bangsa Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, menciptakan kesejahteraan umum dan ikut serta aktif dalam perdamaian dunia seperti yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Prof Ismi menawarkan solusi kepemimpinan transisional tahun 2019 dengan smart politics  yaitu kepimpinan yang transformatif bukan  kepemimpinan transaksional  dalam artian seorang  pimpinan yang mampu membawa semua yang ada di organisasi tersebut  melalui emosinya  menjadi lebih baik.

Dan demi perkembangan dan kemajuan di lingkungan UNS,  perubahan transisional Indonesia Tahun 2019, maka setiap sivitas akademik harus melakukan  perubahan perilaku (yang diwujudkan lewat  internasionalisasi, riset grup di UNS dan artikel ilmiah), penekanan simbol-simbol UNS (yang diwujudkan lewat  hasil perangkingan universitas baik skala nasional maupun internasional) penegasan makna (yang diwujudkan melalui  Peringkatan reputasi internasional dan pergaulan dunia),  penetapan nilai ( mewujudkan UNS sebagai world class university) dan terakhir Kepercayaan yang dilandasi etos kerja bekerja adalah sebuah ibadah pada Tuhan Yang Mahas Esa) (Maryani FISIP UNS)

print