Basukarno Duta jadi Tema dalam Pagelaran Wayang edutainment  Prodi HI FISIP UNS

Kearifan lokal merupakan basis pengembangan ilmu hubungan internasional yang  memberi wacana keunggulan  Program Studi Hubungan Internasional (Prodi  HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret (FISIP UNS)  yang berkonsentrasi pada dua hal yaitu diplomasi dan kerjasama internasional, dan dalam bidang pembelajaran  bertumpu pada kearifan lokal dan spiritual quotient, hal tersebut disampaikan oleh Ketua Penyelenggara Wayang Edutainment,  Muhnizar Siagian, M.I.Pol  salah satu dosen Prodi HI di Taman Budaya Surakarta, Senin,  29 Oktober 2018.

Prodi Hubungan internasional telah mencanangkan pementasan wayang kulit sebagai metode pembelajaran dan analisis kritis. Program wayang edutainment  terus  dikembangkan  seiring  dengan  konsep wayang  diplomasi yang mendunia.   Di pementasan wayang 2018 ini mengambil tema Basukarna Duta dengan  Dalang sekaligus Kaprodi HI  Ki Ageng Guru Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA.

Sebagai sinopsis dari pagelaran tersebut  sebagai berikut,  Basukarna merupakan Senapati, Panglima Perang Kerajaan Hastinapura. Ia mendapat  tugas dari Raja, Sang Kurupati, untuk menjadi Duta Agung ke Pertapaan Kutharunggu, Swelagiri. Tugas utama adalah mencari kabar kepastian tentang adanya Wahyu Makutharama.

Arjuna menerima Peta Rahasia Masa Depan dan menjabarkan pengetahuan tentang kepemimpinan yang disebut Hastabrata di Pertapaan Kutharunggu, di Swela Giri. Untuk menjalankan tugas mulia sebagai Duta, Basukarna berangkat bersama Mahapatih, Sangkuni, dan Raden Kartamarmo diiringi oleh pasukan pilihan dari Hastinapura. Namun, ia tidak berhasil ber-negosiasi dengan Begawan Hanoman, orang yang diperintahkan oleh Begawan Kesawasidhi untuk menjaga keamanan pertapaan.

Sebagai Duta Agung, Basukarno merasa perlu menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan. Sehingga terjadilah perang. Basukarno dan balatentaranya kalah dan ia sendiri malah kehilangan senjata sakti, Kyai Jayandanu. Di tengah perjalanan, Basukarno bertemu dengan Arjuna, satriya yang berhasil memperoleh wahyu Makutharama. Dalam pertemuan itu, Basukarno sangat senang karena Arjuna mengembalikan Kyai Jayadanu. Dalam saat yang sama Basukarna melihat Arjuna membawa kitab Hastabrata, yang mana Basukarno ingin meminjamnya. Arjuna tidak memberikan kitab Makutharama (pengetahuan tentang Raja dan Pemerintahan) dan membeberkan tentang Rahasia Masa Depan.

Basukarno berunding dengan bujuk rayu, tetapi selalu menemui jalan buntu (deadlock). Basukarna sekali lagi gagal bernegosiasi dengan Arjuna untuk mendapatkan Kitab Makutharama. Akhirnya, Basukarno menempuh jalan paksa, yaitu dengan peperangan. Namun, sekali lagi Karna kalah menghadapi Arjuna. Akhirnya, ia bersama bala tentaranya pulang dengan tangan kosong. Sembadra, istri Arjuna yang mencari Arjuna akhirnya bertemu, setelah lebih dari lima tahun berpisah. Mereka berdua kembali ke Amartapura untuk memberikan Kitab Makutharama dan Rahasia Masa Depan kepada Puntadewa, Raja Amartapura, disaksikan oleh Para Pendawa, Kresna dan Punakawan.

Pagelaran Wayang edutainment  Prodi HI FISIP UNS ini selain dihadiri oleh budayawan Solo Mbah Prapto Suryodarmo juga disiarakan Radio Swiba Karanganyar dan Streaming Himaters, Himpunan Mahasiswa HI  FISIP-UNS. (Maryani FISIP UNS)

print