Mengenal Keturunan Jawa di New Caledonia, Diskusi dan Bedah Buku Bersama Kementerian Luar Negeri

Prodi Hubungan Internasional bersama  Himpunan Mahasiswa  Hubungan Internasional  (Himaters) FISIP UNS bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri melakukan seminar dan bedah buku bertema Public Outreach  “Jejak Orang Jawa di New Caledonia dan Diskusi Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia  di kawasan Pasifik”.  Kegiatan ini dilangsungkan di Aula FISIP UNS gedung 1 lantai 2 mulai jam 09.00-13.00 WIB , hari  Kamis 6 september 2018. Hadir dalam sesi pertama kegiatan tersebut Bapak Widyarka Ryananta, Mantan Konsul Jenderal RI di Noumea  yang juga sebagai penulis dari buku tersebut, dilanjutkan di sesi kedua  tentang   Kebijakan Pemerintah Indonesia di Kawasan Pasifik oleh Asa Paria Silalahi yang menjabat sebagai Pejabat Fungsional Diplomat Direktorat KSIA Asia Pasifik dan Afrika  dan Ben Perkasa Drajat yang menjawab sebagai Pejabat Fungsional Diplomat Direktorat Asia Timur dan Pasifik. Diskusi dan bedah buku  ini diikuti oleh mahasiswa dan Dosen Hubungan Internasional di Solo, Kementerian Luar Negeri, Perwakilan Pemerintah Kota Surakarta dan tamu undangan baik dari Universitas Sebelas Maret maupun dari luar UNS.

Acara  dibuka oleh  Drs. Sudarmo, MA, Ph.D  yang mewakili jajaran Dekanat FISIP UNS menyampaikan terimakasih atas terpilihnya FISIP UNS sebagai salah satu penyelenggara kegiatan diskusi dan bedah buku mengingat FISIP UNS juga identik dengan fakultas yang kental mempelajari  jalur komunikasi dan poitik diantara negara-negara di dunia. Dari diskusi dan bedah buku tersebut beliau berharap para peserta mampu mengambil pembelajaran yang disampaikan oleh narasumber.   Sambutan dari Kementerian Luar Negeri disampaikan  ibu Nahari Agustin yang juga Mantan Duta Besar RI untuk Turki.

Muhnizar Siagian, M.I.Pol  dosen Prodi Hubungan Internasional sekaligus  moderator dalam acara diskusi dan bedah buku tersebut  mengawali diskusi  dengan menbuka  kisah  seputar negara-negara yang terletak di kawasan Melanesia, dimana ada beberapa keturunan asli Indonesia  yang tersebar di beberapa negara lain, hal ini terjadi salah satunya karena dampak kolonialisme dan perluasan kerjasama dengan beberapa negara jajahan untuk membuka proyek didaerah baru ini, salah satunya jejak orang Jawa di New Caledonia.    Hal ini tentu saja menarik apabila kemudian dihubungkan dengan kerjasama Pemerintah RI di kawasan tersebut.

Dalam paparan singkatnya Widyarka Ryananta menyampaikan bahwa orang jawa di New caledonia memiliki sejarah panjang dimana rombongan pertama terdiri dari pekerja kontrak dari Jawa yang tiba diNoumea 121 tahun disusul puluhan rombongan hingga jelang tahun 1950. Mereka banyak yang bekerja dibidang pertanian, peternakan dan pertambangan nikel. Saat ini generasi muda keturunan Jawa telah banyak menikmati kehidupan layak dan berkarir disemua bidang. Para keturunan  orang Jawa tersebut bahkan memiliki  memoar dengan membentuk organisasi sebagai rasa kangen terhadap Jawa.  Para pemuda keturunan Jawa di New Caledonia bahkan  tetap melestarikan budaya , seni dan tradisi Indonesia. Beberapa diantaranya menjadi  politisi keturunan Indonesia yang mengikuti asosiasi sehingga menjadi aktivis sekaligus anggota kongres. Dari paparan yang disampaikan membuat antusiasme peserta terlihat dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan para peserta, bahkan hingga beberapa penanya tidak mendapatkan kesempatan karna terbatanya waktu.

Bedah buku  dilanjutkan dengan diskusi kebijakan pemerintah Indonesia di Pasifik dengan  pemateri Ben Perkasa Drajat dan  Asa Patia Silalahi. Diskusi yang merujuk pada tantangan dan peluang RI di Pasifik menjadi suatu hal yang menarik dimana Pasifik sering dipandang sebelah mata oleh negara-negara lain. Berbagai program dilakukan Indonesia untuk berbagai kepentingan nasional Indonesia di Kawasan Pasifik. Berbagai isu yang hangat di kawasan Pasifik juga ditanyakan oleh beberapa mahasiswa sebagai kegamangan mahasiswa terhadap isu yang melanda dunia. Diskusi hangat akhirnya harus diakhiri mengingat waktu yang terbatas, kesimpulan dari moderator menyatakan  bahwa Kawasan Pasifik adalah halaman belakang Indonesia yang juga harus diurus, intelektual  Indonesia sudah saatnya untuk mengarahkan teropong intelektualnya untuk banyak membahas berbagai persoalan di Kawasan Pasifik, kawasan yang masih belum banyak dibahas dan diketahui oleh Mahasiswa Hubungan Internasional  yang masih konsentrasi ke kawasan Eropa, Amerika, Timur Tengah hingga Asia Tenggara saja. Diakhir sesi diskusi  dilakukan penyerahan cenderamata oleh Bapak Muhnizar Siagian  selaku perwakilan Prodi HI FISIP UNS terhadap Ibu Nahari Agustin  dilanjutkan dengan sesi foto bersama. (Maryani FISIP UNS)

print