Kembali Hadir Buku Karya Dosen FISIP UNS, Buku Seri Literasi Media: Awan Gelap Terorisme Siber

Selain dua buku Sinopsis Buku “Dinamika Komunikasi Dalam Pandemi Covid-19” dan Seri Literasi Media : Dari Hoax hingga Hacking yang telah diterbitkan sebelumnya, Sri Herwindya Baskara Wijaya, S.Sos,M.Si dosen dari Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UNS, juga menulis buku tentang Seri Literasi Media: Awan Gelap Terorisme Siber, yang diterbitkan dicetakkan pertamanya bulan Oktober 2020.

Dalam buku setebal  xxx + 388 halaman  dengan editor  Dr. phil. Eka Nada Shofa Alkhajar dan  Drs. Widyantoro, MSi, menurut  penulis,  Herwindya biasa disapa didasari oleh  paham terorisme, seperti yang ditulis Jason Franks dalam Rethinking the Root Of Terrorism(2006) telah menjadi salah satu persoalan dan tantangan global terbesar di abad ke-21.

” Meski sejarahnya telah berurat akar lama sejak periode klasik, namun terorisme mendapatkan momentum, histeria, dan euforia globalnya sejak penyerangan atas World Trade Center (WTC) dan Pentagon pada 11/9/2001 di Amerika Serikat (AS). Karena kejahatan dan dampaknya yang luar biasa, maka terorisme dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary measure)“, ujar  Herwindya.

Lebih jauh Herwindya mengungkapkan bahwa hal ini didukung adanya perkembangan  internet dan media sosial yang hadir menghiasi dunia modern dewasa ini,yang juga dimanfaatkan oleh  para teroris juga. Kelebihan pada hal kecepatan, kemasifan penetrasi, kemudahan penggunaan hingga keterjangkauan nilai finansial menjadikan internet dan media sosial menjadi lahan favorit baru bagi para teroris untuk bergumul di dalamnya. Dengan kompetensi expert dalam bidang information and technology (IT), para teroris bisa mendesain konten sedemikian rupa ruang-ruang virtual menjadi sangat persuasif hingga mampu mempesona banyak pihak terutama generasi milenial.

Bukan hanya menjadi follower di dunia maya, namun internet dan media sosial bahkan mampu mengubahnya menjadi barikade hara kiri yang siap mati dalam memperjuangkan ideologi diri/kelompoknya di dunia nyata. Internet dan media sosial pula mampu menjadikan para teroris menjadi sosok-sosok ‘Serigala Tunggal’ (lone wolf) yang siap mencabik-cabik targetnya dengan taring terornya secara mandiri dan independen. Cukup dengan intensitas penetrasi ototidak ditambah dengan injeksi ideologi yang ‘menggigit’ menjadikan seorang netizen yang awalnya polos menjadi sosok yang beringas bertabur maut.

Bagi para teroris, teknologi modern canggih bernama internet dan media sosial ini telah dijadikan semacam showroom untuk men-display-kan beragam informasi ‘menjadi teroris yang profesional’, mulai dari doktrin ideologi, propaganda, rekrutmen, sabotase, pendanaan, produksi bom hingga serangan dan perang hibrida (hybrid war and attact). Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) adalah contoh sukses kelompok teroris global dalam memanfaatkan internet dan media sosial untuk menghipnotis sekaligus meneror dunia.

Profil Sri Herwindya Baskara Wijaya bisa dilihat diSINI

Buku ini mencoba memotret soal praksis terorisme, terutama terorisme siber sebagai sosok ‘Grim Reaper’ yang mencemaskan dunia dengan sabit panjang terorisme-nya.  (Maryani FISIP UNS)