BEM FISIP UNS dan Bidang kemahasiswaan UNS Selenggarakan Webinar Kampanye Pencegahan Kekerasan Seksual dan Perundungan

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP UNS berkolaborasi dengan Biro Kemahasiswaan UNS  menyelenggarakan Webinar Nasional yang bertemakan Kampanye Pencegahan Kekerasan Seksual dan Perundungan “Pahami Kekerasan Seksual, Hindari Perilaku Cilaka”. Hadir dalam acara tersebut sebagai narasumber: Ibu Siti Aminah Tardi (Komisioner Kombas Perempuan); Kalis Mardi Asih (Penulis dan Gender Equality Campaigner); Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si,  (Dekan Fisip UNS) dengan Moderator: Lisa Elfena (Founder Komunitas Salirang) dan seorang Mystery Guest. Webinar ini dilaksanakan Minggu, 1 November 2020, 08.00-12.00 WIB melalui platform  zoom meeting

Pembukaan webinar dilakukan  oleh Wakil Rektor Prof. Dr. Kuncoro Diharjo. ST, M.T.   Dalam Sambutan Prof Kuncoro menyebutkan bahwa perundungan atau bullying  bisa mengganggu mental anak-anak Indonsia sehingga kita harus  bisa menghindari baik saat sebagai pelaku atau yang mengalami perundungan itu sendiri.  Dengan upaya menghindari kekerasan dan perundungan ini setiap orang dapat menjadi  sehat baik secara fisik maupun  mental, dan dapat  menjadi generasi muda dan generasi milenial yang kuat dan sehat serta mampu membangun masyarakat Indonesia. Kekerasan seksual dan perundungan harus menjadi prioritas pencegahan dimasa yang akan datang.

Sebagai narasumber pertama, Prof.  Ismi menyampaikan dalam narasi awalnya terkait mitos kekerasan seksual. Dalam mitos tersebut dipercaya bahwa kasus seksual hanya sedikit, wanita yang mengundang terjadinya kekerasan karena perilaku dan cara berpakaian serta kasus pelecehan akan hilang sendiri. Padahal dalam kondisi nyata tidaklah demikian,  karena ternyata kasus kekerasan itu banyak, tidak diundang dan berpakaian rapipun wanita tetap menjadi korban pelecehan serta tidak ada kasus yang hilang dengan sendirinya. Adanya kemajuan teknologi informasi tak jarang berkontribusi akan munculnya pelecehan dan kekerasan seksual. Dampak akibat kekerasan seksual tersebut meliputi trauma genital dan extra genital, kehamilan yang tidak diinginkan, disfungsi seksual dan penyakit menular seksual lainnya.

Terkait dengan  banyaknya kasus kekerasan seksual diperguruan tinggi, Beliau menyatakan bahwa  tidak ada satu lembaga pun yang memiliki data akurat terkait hal ini, karena sifatnya sporadis dan hanya bila terekspos oleh media, testimoni pribadi yang tertutup rapat dan bisa menjadi fenomena gunung es. Kemudian solusi  dan  strategi pencegahan apa yang bisa dilakukan terhadap kasus kekerasan dan perundungan  itu sendiri,  Prof Ismi menyampaikan beberapa hal diantaranya membangun situasi yang kondusif bagi kekerasan seksual dan perundungan di perguruan tinggi melalui code of conduct anti kekerasan dan perundungan, kelembagaan yang memadai, konseling ahli, jejaring dengan masyarakat sipil , Komnas HAM dan gender yang dimasukkan dalam kurikulum pembelajaran. Dan  UNS saat ini terkait  regulasi khusus  kekerasan seksual dan bullying memang belum ada,  tetapi regulasi terkait bagaimana sivitas akademik saling berinteraksi dan bertata karma menjunjung tinggi dengan meninggikan sifat humanism memang sudah ada.

Siti Aminah Tardi dari Komisioner Komnas Perempuan menyampaikan  prosedur  pengaduan pelayanan korban kekerasan terhadap perempuan di Komnas Perempuan. Dan pendidikan consensual sebagai langkah pencegahan bisa dilakukan sejak kecil salah satunya dengan cara meminta ijin apapun yang akan dilakukan dan dilakukan secara sadar. Lebih jauh Siti Aminah menyebutkan bahwa kekerasan seksual  dan perundungan terhadap korban dapat diminimalisir saat negara hadir memberi kepastian untuk mencegah melakukan berbagai kebijakan dan memberi pemulihan mental kepada korban. Pencegahan ini bisa dilakukan melalui relasi yang harmonis antara interaksi laki-laki dan wanita.

Narasumber ketiga yang juga  Penulis dan Gender Equality Campaigner,  Kalis Mardi Asih, berbicara tentang Kekerasan Berbasis Gender (KBG). KBG adalah  adalah tindakan melukai menyerang, mengancam memaksa,mengintimidasi atau menakuiti seseorang yang disebabkan struktur kekuasaan berbasis gender yang timpang. Sedangkan Kekerasan Berbasis Gender Siber difasilitasi dengan teknologi dengan menggunakan banyak aplikasi bisa sms, game forum, dating apps dan sebagainya dengan jenis-jenis yang banyak sekali seperti cyber grooming, cyber harassment atau  pelecehan seksual online, hacking, illegal content (istri  korban KDRT suami mengancam), infingementt privacy, malicious distribution, online defamation, online recruitment.  (Maryani FISIP UNS)