Kontribusi Alumni FISIP UNS dalam Wedangan IKA UNS SERI XXVIII tentang Solusi Menghadapi Hoax

Ikatan Alumni Universitas Sebelas Maret atau sering disingkat dengan IKA UNS, rutin menyelenggarakan acara yang diberi nama Wedangan IKA UNS. Hari ini Rabu, 21 Oktober 2020, 19.30 WIB acara Wedangan IKA UNS ke XXVIII kembali digelar dengan tema Solusi Menghadapi Hoax Bersama dengan Jejak langkah Alumni FISIP UNS. Hadir sebagai  pembicara dalam acara tersebut  Abdul Kohar (angkatan 1990), Direktur Utama Lampung Pos dan Petinggi di Media Grup, KH M. Dian Nafi  (angkatan  1984) Pembina Yayayasan Perdamaian Lintas Agama dan Golongan , Iin Yumianti  Angkatan 1994  yang saat ini  menjabat sebagai Wakil Direktur Konten Trans Media Digital, Mulyanto Utomo dari angkatan  1983, Jurnalis Senior Pembina Yayasan Solo Peduli, Sri Hastjarjo, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UNS, Dr. Dorien Kartikawangi Dosen Ilmu Komunikasi Unika Atmajaya Jakarta (angkatan 1984), Potan Rambe Ketua Keluarga Alumni FISIP UNS dengan moderator Ketua PWI Solo Anas Sahirul.

Dalam sambutan Rektor UNS, menyampaikan pendapat dari  Montesque bahwa ada pilar-pilar eksekutif, legislatif dan yudikatif dalam suatu negara. Dan dalam negara modern pilar tersebut ditambah dengan pilar kekuasaan oleh media massa. Betapa cepatnya perkembangan media massa tertutama dalam media sosial yang sangat sulit dikontrol. Media yang baik adalah media yangmampu mengontrol kualitas konten atau isi tulisannya karena media yang baik tidak akan menyebarkan berita bohong atau hoax. Hoax adalah berita yang tidak benar, namun jika berita hoax itu diulang-ulang pada akhirnya ada anggapan bahwa berita itu benar adanya. Hal itu tentutidak akan dilakukan tetapi harusmenjadikan media yang benar sesuai dengan fakta dan ada conter dari hoax menjadi berita yang berimbang.

Paparan pertama disampaikan oleh Mulyanto Utomo, Jurnalis senior dari Kota Surakarta. Beliau menyampaikan terkait keberadaan berita bohong atau hoax yang sudah ada sejak lama. Hoax disebut sebagai fake news ada sejak lama hal ini dibuktikan dengan adanya sejarah.seorang jurnalis yang profesional akan memahami kaidah seorang wartawan bagaimana dia harus bekerja secara jujur, bagaiamana fakta disampaikan sesuai dengan kebenaran yang fungsional dan berjalan terus menerus. Hoax ada yang diciptakan atau dibuat tetapi dalam hal ini tidak mungkin dilakukan karena di  media mainstrem ada kompetensi atau sertifikasi yang dilakukan oleh Dewan Pers. untuk itu edukasi bagi masyarakat perlu dilakukan karena setiap masyarakat bisamenjadi wartawan walaupun bukan wartawan yang bukan belajar tentang kaidah jurnalis yang sesungguhnya.

Terkait tentang bagaimana pemikiran antara pemerintah dan platform media yang belum ada kesepakatan terkait mengapa hoax itu muncul, Abdul Kohar  berpendapat bahwa  ini bisa jadi karena hoax  menemukan ruang tertentu  terutama dimedia sosial sehingga diperlukan literasi pada semua lapisan masyarakat, karena pada kenyataannya memang masih ada lapisan masyarakat yang belum memahami akan pentingnya literasi media itu sendiri. Belaiu menyampaikan beberapa solusi diantaranya melalui  tabayun atau mencari kebenaran dari sumbernya melalui klarifikasi;  menggunakan nalar atau akal sehat; melakukan aktifitas saring sebelum sharing, serta melakukan pemeriksaan fakta atau fake cheker.

Iin Yumiyanti, (Kom 1994) menyampaikan terkait  tema bagaimana media online terbebas dari hoax. Sebagaimana diketahui bahwa keberadaan internet berimplikasi dengan  adanya era yang serba cepat, serba instan kompetisi sangat ketat, hal ini kemudian berekses pada munculnya berita tidak akurat,tidal berimbang, cenderung dangkal dan sepotong-sepotong akibatnya gagal menggali akar masalah serta gagal menawarkan alternatif solusi ataspermasalahan yang dihadapi. Senjata dari jurnalis tersebut adalah obyektifitas, disiplinnya verifikasi dan nilainya adalah hak rakyat untuk tahu informasi yang sebenarnya.

Sedangkan Dosen dari FISIP UNS, Sri Hastarjo, Ph.D, yang membahas tentang Jurnalism, fake news and Disinformation. Ada tiga jenis disinformasi adalah informasi yang keliru, sesuatu yang sengaja dibuat dipublikasi yang bertujuan untuk melukai atau merugikan pihak lain. misinformation adalah informasi yang keliru tetapi tidak dibuat secara intensif untuk melukai orang lain dan mal- information adalah informasi yang didasarkan pada realita yang digunakan untuk mencelakai seseorang fakta yang diplintir untuk menyerang orang lain. Bagaimana cara kita melawan 1) Literasi Media dan informasi dengan cara memasukkan dalam kurikulum pembelajaran serta mengedukasi masyarakat secara terus menerus; 2) fact checking yaitu dengan menggunakan media mainstream dan atau aplikasi hoax buster; 3) dengan virtual community concern yaitu dengan aktif melakukan klarifikasi atau edukasi di jaringan sosial masyarakat.

Terakhir Dosen dari Unika Jakarta, Dr. Dorin Kartinawangi, menyampaikan bahwa Information literacy participation matters, literasi bukan hanya untuk media saja tetapi juga untuk semua informasi hal ini dikarenakan dimasyarakat ada citizen journalition, social journalition yang bisa memproduksi semua pesan. Seninya di Indonesia saat kita memilki media akan menjadi seolah-olah seorang ahli, peran media sosial, merambah ke ranah politik, peran-peran opinion leader formal dan informal serta inkonsistensi atau kurangnya koordinasi. (Maryani FISIP UNS)

Link lengkap silakan buka di SINI