Prodi Hubungan Internasional Selenggarakan Kuliah Tamu “Diplomasi Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia-Perancis”

Prodi Hubungan Internasional berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional  (Himaters) FISIP UNS menyelenggarakan  Kuliah Tamu  dengan Judul  Diplomasi Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia-Perancis  yang dilaksanakan  Rabu, 5 Agustus 2020, pukul 13.00 WIB via google meet dengan narasumber  Prof. Warsito S.Si, DEA, Ph.D  dari  Indonesian Education and Culture Attache in Paris, Perancis.  .

Acara diikuti pula oleh Dekan FISIP UNS, Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si dan Kepala Prodi Hubungan Internasional Drs. Ign. Agung Satyawan, SE,M.Si, Ph.D. dan moderator Bintang Indra Wibisono, S. Hub, Int.M.A. Kuliah tamu ini diikuti lebih dari 70 peserta dari kalangan  dosen maupun mahasiswa.

Dalam paparannya Prof. Warsito menyampaikan arti dan makna diplomasi, yang  diartikan sebagai tindakan dan cara mewakili suatu negara ke negara lain dalam negosiasi internasional . Ada dua kekuatan dalam diplomasi adalah hard diplomacy dan soft diplomacy.  Menurut  Prof. Warsito, Diplomasi di era saat ini  tidak hanya menjadi tugas negara atau diplomat saja,  melainkan menjadi tanggung jawab semua  warga negara (cyber war).  Karena kebijakan diplomasi suatu pimpinan negara bisa saja berbeda dengan keinginan warga negaranya.

Sebagai persiapan menghadapi  cyber war ini, maka seorang mahasiswa atau lulusan Hubungan Internasional  harus memiliki banyak kemampuan diantaranya : (1) Kemampuan dalam berdiplomas, yang berupa   kemampuan  berbahasa. Dengan kemampuan berbahasa ini maka akan dapat  berinteraksi secara sosial  melalui  struktur kata atau cara  yang  dimiliki. Hal ini menjadi keharusan  bagi mahasiswa atau lulusan HI  yang harus lebih  tinggi dibandingkan dengan bidang  yang lain. Karena kemampuan ini sangat mudah dipelajari oleh bidang lain. Prof Warsito menekankan bahwa seseorang  yang bergerak dibidang hubungan internasional harus memiliki pangkat dua atau nilai lebih lainnya, dan  kalau  kemampuannya biasa-biasa saja akan kalah dengan bidang lain; (2)  Seorang mahasiswa atau lulusan Hubungan Internasional harus  memiliki  karakteristik yang analis serta responsif yang positif, dan pantang menyerah dan memiliki cakrawala yang seluas-luasnya serta siap denngan tantangan  yang senantiasa berkembang.  Kuasai minimal tiga bahasa dari  enam bahasa internasional  atau Bahasa PBB sebagai nilai plus dari mahasiswa atau lulusan HI; (3)  Kemampuan lain seorang  diplomat adalah negosiator yang harus sabar dan ulet mencari cara dan strategi sehingga tercapai tujuan yang ingin dicapai

Menyinggung tentang kemungkinan magang atau kolaborasi kerjasama dalam bidang pendidikan di perguruan tinggi, Prof Warsito menyampaikan bahwa bagi mahasiswa yang ingin magang atau melakukan  riset bisa dikoordinir lewat prodi atau fakultas, karena kesempatan akan hal itu sangat terbuka luas. Kerjasama yang terjadi  sangat penting, bahkan dapat  dikembangkan untuk kolaborasi bidang pendidikan baik dengan partner yang masih ada di Indonesia maupun yang berada di Perancis.

Kesimpulan dari Kuliah tamu ini akhirnya memberi pengetahuan dan pemahaman bahwa Proses kerjasama Indonesia dengan Perancis merupakan bentuk kerjasama yang sangat kompleks.Bukan hanya masalah ekonomi, sosial budaya saja tetapi juga bidang pendidikan  yang melibatkan soft power dan pola-pola hubungan informal yang justru dapat memberi dampak yang sangat besar baik yang tangibel maupun yang intangible yang dapat memberikan persepsi suatu bangsa dan proses ini meluas bukan hanya dilingkungan diplomat saja akan tetapi semua orang dapat berpartisipasi termasuk mahasiswa yang pada akhirnya posisi sebagai pelaku praktek diplomasi, dan yang tak kalah penting  tingkat pendidikan yang ada dapat mengisi gap antara realitas dengan tingkatan pendidikan praktis dan yang teoritis,  karena mengingat dinamika yang tejadi didunia luar berkembang  cukup cepat sedangkan  dalam dunia pendidikan berkembang stagnan atau cukup lambat.hal ini  tidak bisa dibiarkan, untuk itu diperlukan kontribusi semua pihak untuk mengeksplor dan berpartisipasi  dan  bagaimana menyiapkan kompetisi diera globalisasi ini. paling tidak setiap mahasiswa harus memiliki modal dahulu seperti bahasa, pengetahuan termasuk budaya yang cukup. (Maryani FISIP UNS)