Sinergi Perguruan Tinggi dan Industri di Kampus Merdeka, Jadi Bahasan dalam FISIP Coffee Talks #3

Januari 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) Nadiem Makarim, telah  meluncurkan Kebijakan Kampus Merdeka yang merupakan kelanjutan dari konsep Merdeka Belajar bagi pendidikan tinggi. Walaupun ini masih dalam tahap awal karena belum menyentuh aspek kualitas, tetapi sudah ada beberapa matriks yang akan digunakan untuk membantu perguruan tinggi mencapai targetnya. Sebagai bahasan terkait  Kampus Merdeka,  FISIP UNS menggelar acara FISIP Coffee Talks#2 Sinergi Perguruan Tinggi dan Industri” yang secara spesifik membahas mengenai magang merdeka yang banyak menyisakan banyak pekerjaan rumah bagi perguruan tinggi maupun industri ditambah dengan kondisi pandemi covid-19 yang saat ini masih terjadi. Beberapa pekerjaan tersebut meliputi persiapan kurikulum alternatif hingga menyusun model di Industri yang dapat memenuhi standar merdeka magang sesuai dengan kebijakan Kemendibud saat ini. Implementasi kampus Merdeka (merdeka Belajar) tidak semudah membalikan telapak tangan. Ada banyak aspek yang perlu diperhatikan, dan itu tidak hanya menjadi tanggung jawab Perguruan Tinggi melainkan juga tugas  Pemerintah sebagai pembuat kebijakan agar dapat mempermudah implementasi kebijakan ini.

FISIP Coffee Talks#2 Sinergi Perguruan Tinggi dan Industri”, dilaksanakan Sabtu, 18 Juli 2020, dengan menghadir tiga narasumber yaitu (1) Jojo S. Nugroho ; Managing Director Imogen PR dan Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI); (2) Seto Hendrianto ; Group Head Director Next Chapter Film & Production House dan Sri Hastjarjo, S.Sos, Ph.D,  Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sebelas Maret  dengan moderator Monika Sri Yuliarti,S.Sos,M.Si

Dalam paparannya Jojo S. Nugroho menyebutkan  bahwa untuk menjadi fresh graduate jaman now, gelar sarjana dengan IPK tinggi saja tidak cukup. Diera disrupsi dan covid setiap orang harus memiliki tingkat adaptasi yang tinggi yang didukung dengan  adanya  kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Kompetensi ini merupakan akumulasi dari pengetahuan (knowledge), kemampuan (skill) dan sikap (attitude).

Sedangkan Seto Hendrianto, mengulas terkait beberapa variabel  yang mempengaruhi Kampus Merdeka sebagai hasil sinergi antara indutri dan pergutuan tinggi dipengaruhi oleh tiga hal yaitu (1) Money meliputi keluar dari kota asal berdampak pada  biaya hidup, dan intership industri, (2) Student capability (Kemampuan siswa), dimana mereka harus memiliki keahlian sebelum bertugas, dapat beradaptasi dengan lingkungan kantor, dapat beradaptasi dengan lingkungan kota yang ditinggali, dan (3)  terkait tujuan  baik regulasi industri, kampus atau pemerintah  terkait dengan jenis keahlian apa yang akan  mereka bawa pulang setelah magang industri.

Dan Pembicara ketiga  Sri Hastjarjo, S.Sos, Ph.D, yang juga menjabat sebagai Ketua Departemen Kurikulum dan Pembelajaran ASPIKOM menyebutkan adanya fenomena dan situasi saat ini dengan arahan kebijakan baru terkait Kampus merdeka itu sendiri diantaranya  mengenai saat ini mahasiswa tidak memiliki banyak fleksibilitas untuk mengambil kelas diluar prodi dan kampusnya sendiri, padahal dalam arahan baru menyebutkan bahwa mahasiswa   dapat mengambil sks di luar perguruan tinggi  sebanyak 2 semester atau setara dengan 40 sks. Dan tak jarang di banyak kampus ditemukan keadaan bahwa pertukaran pelajar atau praktek kerja akan menunda kelulusan. Dimasa kebijakan baru ditemukan perubahan definisi bahwa setiap SKS diartikan sebagaijam kegiatan bukan jambelajar dan seterurnys. Dan Program magang industri ini menerutnya hanya cocok dilakukan untuk program vokasi dan jenjang sarjana, tidak untuk jenjang yang lebih atas.(Maryani FISIP UNS)