Peran Media dan Goverment Public Relations (GPR) dalam Penanganan Covid-19 Jadi Tema Webinar BiPRO#3

Peran pemerintah dan media sangat penting di masa pandemi. Hal ini dikarenakan banyak informasi yang dihembuskan oleh banyak pihak yang terkadang   membuat kecemasan atau ketidakpastian karana kekurang validan informasi yang beredar tersebut.  Berkaca dari permasalahan diatas, Public Relation Laboratorium (PR Lab), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, menyelenggarakan acara Bincang PR online pada hari  Kamis, 16 Juli 2020 dengan mengangkat tema Goverment Public Relation (GPR) dan Penanganan Covid-19. Acara tersebut digelar secara online melalui zoom clouds meeting,   dengan menghadirkan dua pembicara ahli yaitu Prof. Dr. Widodo Muktiyo selaku Direktur Jendral (Dirjen) Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) serta Pemimpin Redaksi Kompas.com, Wisnu Nugroho dan moderator Dr. Andre Rahmanto, agenda tersebut

Dalam paparannya  Prof. Widodo menyampaikan materi dan kondisi terkait  kegiatan kehumasan pemerintahan atau biasa dikenal dengan government public relations (GPR) yang terus mengupayakan berbagai  strategi komunikasi yang tepat agar bisa diterima masyarakat. Salah satunya  melalui unggahan terhadap  konten-konten positif baik melalui akun Lembaga maupun akun para pegawainya. Hal ini bertujuan untuk mengurang berita-berita atau  konten-konten yang bersifat  negatif dan hoaks yang telah menyebar di masyarakat luas. Salah satunya terkait konten-konten tentang covid-19.

Narasumber kedua Wisnu Nugroho, memaparkan  beberapa hasil riset  yang dilakukan oleh tim Kompas.com diantaranya pengaruh banyaknya informasi tidak terkonfirmasi yang beredar di masyarakat akan berdampak pada  efek bingung dan banjir informasi. Dengan melibatkan 2.103 responden dengan usia 16-45 tahun dari bulan Febuari- April 2020, Kompas.com merangkum hasil riset tersebut dengan judul “Indonesia Bingung”. Ada lima hasil riset yang diperoleh diantaranya masyarakat Indonesia tak acuh terhadap sebuah kasus sampai itu terjadi di dalam negeri. Hal ini dibuktikan dari pencarian informasi terkait Covid-19 meningkat setelah diumumkannya kasus pertama di bulan Maret 2020 oleh presiden Jokowi. Kemudian respon masyarakat terpecah karena bingung dengan banjir informasi yang terjadi. Kedua,  peran penting seorang ibu menjadi penjaga tangguh di rumah untuk memberikan edukasi. Ketiga pandemi mengakselerasi adaptasi digital yang berdampak pada menjamurnya kegiatan berbasis online. Keempat masih ditemukannya masyarakat yang belum bisa dirumah saja karena alasan ekonomi, dan kelima adalah peran media  sebagai partner  pemerintah.

Terkait dengan partner pemerintah dan Media, Wisnu menambahkan baik pemerintah maupun media, kedua belah pihak memiliki kewajiban untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Tiga hal yang kembali diingatkan oleh Wisnu ialah riset, observasi dan konfirmasi yang harus selalu dilakukan jurnalis ketika membuat berita. Hal tersebut juga akan membantu meminimalisir kesalahpahaman di masyarakat. Sedangkan Prof. Widodo sebagai GPR  menambahkan pentingnya meningkatkan  budaya literasi digital dan kemampuan masyarakat dalam memahami berita. (Maryani FISIP UNS)