Diskusi Konferensi Asia Afrika : Penggalian Substansi dan Makna Oleh Prodi HI FISIP UNS

Diskusi Konferensi Asia Afrika : Penggalian Substansi dan Makna Oleh Prodi HI FISIP UNS

Senin, 30 April 2018, Program Studi Hubungan Internasional,  Kelas Hubungan Masyarakat Internasional dan Politik Luar Negeri Republik Indonesia menyelenggarakan diskusi dan peringatan Konferensi Asia Afrika ke-63 di Ruang Aula FISIP UNS Gedung 1 Lantai 2, mulai pukul 14.00-16.30 WIB dan dihadiri tidak   kurang dari 100 peserta baik dari Prodi Hubungan Internasional sendiri maupun dari prodi lain seperti Prodi Sejarah maupun dari  Prodi-prodi lain  di UNS.  Dalam diskusi ini juga menghadirkan dua narasumber yaitu Wildan Sena Utama, M.A Dosen Sejarah di Universitas Gadjah Mada dan juga merupakan penulis buku Konferensi Asia Afrika 1955: Asal Usul Intelektual & Warisannya bagi Gerakan Global Anti-Imperialisme serta Septyanto Galan Prakoso, S.IP, M.Sc., Dosen dari Prodi Hubungan Internasional FISIP UNS dengan moderator dosen baru di Prodi ini juga.

Acara ini dibuka dengan pidato singkat Kepala  Program Studi Hubungan Internasional, Prof. Andrik Purwasito, DEA.  Dalam sambutannya Prof Andrik menegaskan dengan diskusi KAA ini diharapkan mampu memunculkan stimulai energi dan menggali kembali fenomena yang ada selama pembentukan  KKA itu sendiri. Beliau juga menghimbau agar semua mahasiswa  secara bersama sama dapat  menggali potensi kekuatan yang ada di Asia Pasifik dan tidak lagi memandang Amerika sebagai titik tumpu media analisa suatu kasus ataupun pandangan hidup masyarakat.

Acara dilanjutkan dengan paparan materi oleh pembicara pertama Wildan Sena Utama. Dalam paparannya Bapak Wildan   menyampaikan bahwa Indonesia sudah seharusnya menelisik substansi dari KAA dan tidak hanya memperhatikan romantismenya. Pada dasarnya KAA ini sangat berarti bagi negara-negara yang ikut serta di dalamnya, seperti dengan adanya KAA ini sebagai pendorong atau spirit bagi negara-negara yang belum merdeka. Namun, kemudian KAA tidak akan terlalu berarti jika setiap tahun kita hanya memperingatinya tanpa mengerti spirit, sejarah dan perkembangannya.

Pembicara kedua, Septyanto Galan Prakoso, S.IP, M.Sc juga menyampaikan bahwa terdapat tiga dimensi yang harus kita lakukan pasca KAA  yaitu: (1) Perspektif Hubungan Internasional agar memiliki sudut pandang baru yaitu sudut pandang Selatan. Tidak hanya bersudut pandang barat. (2) The Bandung spirit; hubungan internasional antara middle-power countries, negara dunia ketiga, dan menjadikan ini sebagai kebijakan luar negeri. (3) The dynamics of south-s internalization; economic cooperation, development, aid, regimes, human security and the issues which follow.

Menurut salah seorang panitia Dewi Masruroh, yang juga  mahasiswa HI FISIP UNS 2015, menyampaikan harapan dan keinginnannya semoga dengan terselenggaranya diskusi ini setiap peserta mampu memahami segala latar belakang, tujuan dan arah yang mendasari KAA  yang telah diungkap secara gamblang oleh kedua  pemateri  serta didukung oleh beberapa akademisi yang ikut hadir dan ikut memberikan sumbangsihnya  pemikiran tentang KAA,   sehingga semua peserta mampu memahami  mendalami substansi KAA itu sendiri, dan tidak tenggelam berlarut-larut dengan romantismenya saja.  Selain itu dengan adanya dua instrumen yaitu mahasiswa HI dan Sejarah membuat kajian atau diskusi menjadi semakin lengkap, terakhir hasil dari diskusi ini selanjutnya dapat dikaji keilmuannya secara lebih mendalam. (Maryani FISIP UNS)

print