Peduli Isu Hoax, Prodi S2 Ilmu Komunikasi Adakan Kuliah Strategi Humas dalam Mengatasi Hoax

Perkembangan teknologi informasi saat ini  tak jarang  menyangkut persoalan-persoalan sensitif yang dapat menyentil kelompok-kelompok tertentu yang dapat  menimbulkan gejolak dan  pergolakan oleh kelompok  tertentu lainnya. Beberapa informasi yang disebarkan itu  terkadang bukan merupakan sebuah fakta atau saat sekarang dikenal sebagai berita hoax atau berita bohong. CNN Indonesia tanggal  10 Agustus 2017 merilis hingga paruh pertama tahun 2017 Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat adanya penurunan laporan aduan konten negatif di internet dan media sosial dimana aduan terkait pornografi, hoax, perjudian, dan radikalisme/ terorisme yang sebelumnya  sempat meningkat tajam. Aduan tertinggi kedua adalah konten berisikan hoax atau  berita palsu.  Pemblokiran konten negatif oleh pemerintah  lewat Kementerian Kominfo merupakan kolaborasi dan koordinasi Kominfo, masyarakat dan lembaga serta kementerian terkait yang diharapkan dapat meningkatkan  kesadaran masyarakat  sehingga memahami mana konten yang bisa dan tidak bisa dibagikan kepada masyarakat lainnya.

Berkaca dari beberapa persoalan diatas Prodi S2 Ilmu Komunikasi  Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret (FISIP UNS) menyelenggarakan  kegiatan Kuliah Pakar Bidang Ilmu Komunikasi  dengan Tema “Strategi Humas Pemerintah dalam Mengatasi  Berita Hoax” bersama Kepala Pusat Literasi dan Profesi SDM Bidang Komunikasi Kementerian Kominfo, Prof. Dr. Gati Gayatri, MA, Rabu 1 November 2017 pukul 09.00-12.00 WIB di Ruang Seminar FISIP UNS. Kegiatan ini sendiri diikuti oleh para akademisi dan mahasiswa.

Maraknya penyebaran informasi hoax  atau fake news atau  berita palsu/bohong,  yang  memiliki ciri-ciri  seperti berisi berita bohong,  berlebihan, terlalu baik atau terlalu buruk,  atau berita  yang dapat menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan, sumber  berita tidak jelas, dan  tidak ada pihak yang bisa diminta pertanggungjawaban dan klarifikasinya. Selain itu hoax atau berita palsu ini seringkali disebarkan bukan karena tidak mengetahui tetapi terkadang karena merupakan berita yang tidak dicoba mencari kebenarannya terlebih dahulu. Banyak individu maupun masyarakat yang hanya menyalin dan menyebarkan  (copy and share) tanpa melihat apakah berita tersebut sesuai dengan kenyataannya. Bukan hanya dalam bentuk kata-kata, ada juga informasi dalam bentuk gambar atau video.

Dalam paparannya Prof. Gati menyampaikan dalam instansi pemerintah atau swasta,  penyebaran berita hoax biasanya ditangani  oleh  bagian tertentu yaitu  Bagian Kehumasan  atau public relations. Bagaimana seorang public relation harus mampu memperbaiki dan membangun kepercayaan melalui  integritas dan keadilan sebagai kriteria bagi semua keputusan bisnis; mempertahankan penekanan pada kualitas produk dan/atau jasa; serta secara terbuka dapat  membagikan  informasi yang benar kepada seluruh public dengan mencari secara  aktif menginput dari publik dan bersifat responsif terhadap semua hal yang terjadi serta memperbaiki komitmen pada komunitas local dan menciptakan forum-forum untuk mendorong dialog dengan konstituennya.

Sedangkan Dra. Prahastiwi Utari, M.Si, Ph.D selaku Kepala Program Studi S2 Ilmu Komunikasi  dalam sambutannya menyampaikan dengan banyaknya berita hoax yang beredar sekarang tentunya bisa menjadi salah satu ide para mahasiswa atau masyarakat umum lainnya untuk pembuatan karya ilmiah, jurnal atau  tesis yang dapat diambil kemanfaatanya oleh banyak pihak, karena  bagi mahasiswa khususnya di  jenjang S2 diharapkan setiap mahasiswanya tidak  hanya bisa menerapkan teori  saja namun harus lebih dari itu. Sehingga penting sekali bagi mahasiswa untuk mengikuti kegiatan seperti kuliah pakar sehingga bisa menambah wawasan dan pengetahuan tentang tema-tema yang diangkat dalam pembahasan, langsung dari para ahlinya. serta dapat menjadi sumber berita yang  mampu  menyampaikan berita benar,  dapat menggunakan sumber informasi pertama yang memiliki kredibilitas tinggi demi  tujuan kebaikan dan upaya untuk meminimalisir penyebaran hoax  khususnya di dalam jaringan komunikasi sendiri.(Maryani FISIP UNS)

print

Share This: