Kuliah pakar bersama Dr. Ahmad Zaharuddin Sani Ahmad Sabri dari UUM

Kamis 20 April 2017 pukul 10.00-12.00 WIB     telah  dilaksanakan  kegiatan  Kuliah Pakar tentang  “Islam Dan Politik : Perbandingan Indonesia Malaysia” dengan narasumber Dr. Ahmad Zaharuddin Sani Ahmad Sabri dari UUM Malaysia. Acara ini merupakan lanjutan dari kegiatan kunjungan sekaligus penjajakan kerjasama  yang telah dilaksanakan sebelumnya di Bulan Maret 2017. Dr. Ahmad Zaharuddin Sani Ahmad Sabri,  atau biasa di sapa dengan Dr Zaharudin Sabri saat ini menjabat sebagai  Direktur Institut Pemikiran Dr Tun Mahatir Muhammad, Universiti Utara Malaysia  (UUM) atau biasa disingkat  IPDM UUM didampingi  salah seorang dosen dari Fakultas Hukum UNS Dr Emmy Latifah,SH,MH. Para tamu diterima oleh jajaran Dekanat, tim internasionalisasi  FISIP UNS serta Drs. Ign Agung Satyawan,Ph.D alumni UUM.

Dalam sambutannya Dekan FISIP UNS Prof Ismi mengucapkan terima kasih kepada Dr Zaharudin Sabri yang telah bersedia hadir dan mengisi kuliah umum bersama dengan sivitas akademik FISIP UNS. Dengan terus digalakkannya budaya  menulis dan mempresentasi dikalangan sivitas UNS ini diharapkan mampu menambah  hasil karyanya baik dalam bentuk artikel maupun jurnal mahasiswa dan dosen  menembus publikasi internasional nantinya. Lebih jauh beliau menyampaikan kegiatan kuliah pakar ini    diprakarsai oleh Tim Percepatan Internasionalisasi FISIP UNS sehingga  perlu diapresiasi karena telah membuka banyak kesempatan bagi dosen dan mahasiswa dalam mempresentasikan karya  dan penelitiannya baik melalui artikel maupun jurnal berstandar nasional  sehingga diharapkan dapat meningkatkan indeks kinerja FISIP UNS juga dapat mempercepat Internasionalisasi  UNS dalam 500 perguruan tinggi dunia yang telah dicanangkan oleh pimpinan UNS.

Dalam paparan singkatnya mengenai tema yang diangkat ini Dr. Zaharuddin Sabri  menyampaikan 11 perbandingan Indonesia  dan masalah terhadap kegiatan keislaman dan Politik saat ini meliputi (1) Ahok-Anis Battel of Jakarta, (2) sejarah Malaysia di Abad 18; (3) Sejarah sebelum tahun 1946, (4) Peran etnis China atau Tiongkok di kedua Negara, (5) Independence orang melayu terhadap etnis lain, (6) Peristiwa 13 Mei 1969 bagi Malaysia, (7) Semangat Nasional di kedua Negara, (8) proses terjadinya kolaborasi diantaranya du kubu yang bersengketa  di Malaysia, (9) adanya isu tentang Islam dan persoalan-persoalanya, (!0) bagaimana kedua  Negara dalam menangani isu dan yang terakhir adalah (11) Adanya motif-motif  dibelakang kegiatan politik di kedua negara . (Maryani FISIP UNS)

print

Share This: