Kuliah Pakar Bersama Duta Besar Indonesia Untuk Bahrain

Prof Andrik , Kepala Prodi HI (tengah) sedang menyampaikan sambutan sekaligus pembukaan dalam Kuliah Pakar bersama Duta Besar Negara Bahrain HE NUr Syahrir Raharjo (paling kanan)

Jumat, 3 Maret 2017 bertempat di  Ruang Seminar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilm Politik Universitas Sebelas Maret (FISIP UNS) pukul 13.30-16.00 WIB,   Himpunan Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional  (Himaters) FISIP UNS mengadakan kuliah pakar dengan mengundang mantan Duta Besar Indonesia untuk Suriname periode 2010-2014 dan saat ini menjabat sebagai Duta Besar untuk Negara Bahrain, Bapak  H.E Nur Syahrir Rahardjo. Kuliah pakar ini diikuti oleh beberapa dosen dan mahasiswa dengan Septyanto Galan Prakoso S.IP, M.Sc selaku moderator. Tema kuliah pakar ini sendiri adalah  “Diplomasi Ekonomi dalam Mencapai Target Ekonomi Nasional”.

Dalam sambutan sekaligus acara pembukaan,  Kepala Prodi HI, Prof. Andrik Purwasito DEA menyampaikan beberapa hasil kerjasama yang telah terjalin antara Prodi HI dengan Kementerian Luar Negeri Indonesia dimana  salah satunya adalah pembekalan materi oleh narasumber dari para Diplomat Kementerian Luar Negeri. Dengan pembekalan dari beberapa narasumber yang berkompeten tersebut, Prof Andrik berharap kedepan mahasiswa  Hubungan Internasional khususnya dapat memiliki wawasan dan pengetahuan  yang luas terkait prospek kerja dari Hubungan Internasional itu sendiri dan berharap mahasiswa nantinya bisa melaksanakan kegiatan magang atau bekerja di Kementerian Luar Negeri,  sebagai Duta Besar atau diplomat lainnya.

HE Nur Syahrir Raharjo Sedang memeaparkan materi tentang Diplomasi Ekonomi di Ruang seminar FISIP UNS

Dalam paparan materi tentang “Diplomasi Ekonomi’,  H.E Nur Syahrir Rahardjo menyampaikan bahwa diplomasi ekonomi sesuai dengan arahan  Presiden Joko Widodo, merupakan pemanfaatan alat politik internasional untuk mencapai tujuan-tujuan ekonomi melalui berbagai kerjasama seperti pembangunan (kesehatan, pendidikan, pertanian), energy, lingkungan hidup, keuangan dan pangan) dan berdasarkan rapat koordinasi yang dilakukan di Kepulauan Riau Pebruari 2015 mengharapkan bahwa para “Dubes dan Diplomat RI diamanatkan Presiden RI untuk menjadi Sales dan Marketer ujung tombak garda terdepan dalam melakukan penetrasi pasar, mengundang turis asing, dan promosi investasi.” dan “Diplomasi Ekonomi, yang dilaksanakan  harus memberikan manfaat nyata bagi rakyat dan mengacu kepada kepentingan rakyat secara riil. Lebih jauh beliau menyampaikan contoh  beberapa permasalahan yang dihadapi  dalam ekonomi luar negeri di bidang perdagangan seperti permasalahan investasi, tolak ukur kerja diplomasi ekonomi, dan perlindungan  warga Negara Indonesia diluar negeri salah satunya adalah masalah tentang tenaga kerja Indonesia (TKI).

Menurut Nur Syahrir Raharjo, yang telah menjadi Duta besar di lima Negara yaitu Kuwait, Athena, Amerika Serikat, Suriname dan Bahrain ini para mahasiswa yang nantinya ingin menjadi duta besar atau diplomat harus memiliki pengetahuan tentang  empat pilar / prioritas politik Luar Negeri Republik Indonesia yaitu 1). Diplomasi perbatasan (kedaulatan); 2) Diplomasi perlindungan (perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia); 3). Diplomasi ekonomi (kesejahteraan rakyat) dan 4). Berkontribusi internasional dengan turut serta dalam menjaga keamanan dan perdamaian dunia. Terakhir berlaiu juga memberi tips-tips untuk para mahasiswa agar dapat diterima di  Kementerian Luar Negeri. Beliau juga berpesan agar tidak mudah menyerah terus berusaha dan berdoa karena pembelajaran itu penting untuk menjadi seseorang yang terkemuka dimasa yang akan datang nanti.

Kuliah Pakar ini berakhir dengan tiga kali sesi tanya jawab yang kemudian diikuti dengan pembagian vandel kepada H.E. Nur Syahrir Rahardjo dari Prof. Andrik Purwasito DEA dan yang terakhir adalah sesi foto bersama. (Maryani FISIP UNS)

print

Share This: