Implementasi Layanan Prima pada Tenaga Kependidikan di FISIP UNS

4Setiap orang menginginkan sesuatu yang lebih dari keinginan dan  pengharapannya,  saat memperoleh layanan baik dalam bidang produk barang  maupun jasa, dan  di instansi pemerintah maupun kalangan swasta. Sedangkan dalam era globalisai persaingan dalam kehidupan baik yang bersifat material maupun non material sangat ketat sehingga suatu perusahaan / lembaga / organisasi harus mampu mempertahankan pelanggan atau konsumennya agar  tetap mendapat  kepercayaan dari pengguna layanannya.

Pembekalan bagi para pelaku pemberi jasa terhadap semua pemangku kepentingan (stakeholders)  sangat diperlukan agar dapat melampaui harapan dan keinginan para konsumennya. Salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah seperti  salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan pada tenaga kependidikan FISIP UNS Sabtu-Minggu, 21-22 Januari 2016 di Tawangmangu Kabupaten Karanganyar kemarin,  dimana  tenaga kependidikan FISIP UNS sebagai pemberi layanan diberi beberapa materi terkait  bagaimana menciptakan motivasi kerja yang berdampak pada peningkatan kinerja  setiap tenaga kependidikan itu sendiri dalam upaya membangun dan menciptakan pelayanan yang  prima bagi semua konsumennya oleh motivator Irvinto Dobiariasto.5

Setiap tenaga kependidikan FISIP UNS diajak terlebih dahulu mengenali  siapa saja  pelanggan atau konsumen yang ada di FISIP UNS  itu yang dalam kenyataannya   konsumen yang dilayani di FISIP UNS ini meliputi  konsumen internal seperti para kolega, pimpinan dan  mahasiswa,  maupun konsumen eksternal yaitu para rekanan bahkan semua orang yang  pada dasarnya adalah konsumen yang membutuhkan  terpuaskannya harapan serta keinginannya.  Dari sini setiap peserta pelatihan diajak lagi berpikir tentang  sebenarnya  apa itu yang dimaksud sebagai pelayanan,  dan mengapa harus dilakukan. Goetsch dan Davis, (1994) mendefinisikan bahwa pelayanan adalah  semua tindakan yang ditujukan  untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan atau bila mungkin melampaui harapan konsumen,  sehingga pelayanan yang baik harus dilakukan dengan sepenuh hati, artinya bahwa pelayanan harus dilakukan secara ikhlas.

Baca juga :Menggugah semangat excellent service FISIP selenggarakan Pelatihan bagi Tendik

7Ada tiga  tingkatan jenis pelayanan yaitu pertama layanan pelanggan (customer service) yaitu memberikan pelayanan dengan cara mengerti kebutuhan konsumen saja dimana kunci dari pemberi layanan adalah mau mendengarkan apa yang dimau oleh konsumen, kedua  layanan prima (excellent service atau service excellence) yaitu pelayanan yang sangat baik dan atau pelayanan yang terbaik, sesuai dengan standar yang berlaku atau dimiliki oleh instansi yang memberi pelayanan sehingga mampu memuaskan pihak yang dilayani (pelanggan) (LAN-RI 2004), dan terakhir adalah layanan yang melampaui harapan pelanggan (customer satisfaction). Kata kunci dari pelayanan ini adalah mau mendengarkan, melihat dan melakukan aksi. Sehingga pelayanan prima diawali dengan adanya kepedulian dengan pelanggan, mampu memberikan pelayanan yang baik, dapat memberikan kemudahan kepada para pelanggannya,   pelanggan memperoleh kepuasan dan menjadi pelanggan yang sangat loyal.

6Dalam mewujudkan pelayanan prima sendiri diperlukan konsep  atau  persepsi tentang penting atau urgensinya pelayanan prima di FISIP UNS ini sendiri, apakah sudah ada  kesamaan dalam konsep layanan prima itu sendiri. Hal ini menjadi penting dan wajib karena  bagi setiap tenaga kependidikan itu sendiri akan menjadi semangat mencapai tujuan bersama dalam memberikan pelayanan terbaiknya dengan melihat permasalahan  atau persoalan yang ada lewat  usaha  menyelesaikan dan memecahkan semua kondisi yang sifatnya paling mendesak dengan memberi solusi tindakan terbaik  berdasarkan sesuatu yang penting dan cepat/ efektif sehingga dapat menyelesaikan  permasalahan dengan bijaksana  dan selalu selalu focus,  hal ini disampaikan oleh Doby panggilan Irvinto Dobiariasto  dalam kegiatan pelatihan motivasi kerja dan peningkatan kinerja dikalangan tenaga kependidikan di FISIP di Tawangmangu beberapa waktu lalu.

Beberapa jenis permainan dalam kegiatan outbond seperti hollow square, number games, estafet  sarung basah, menjahit manusia dan water boom, juga menjadi penilaian Doby saat melakukan assesment terhadap beberapa permasalahan yang ada di kalangan tenaga FISIP UNS ini terkait kedisiplinan, menghargai orang lain, budaya malu, budaya minta maaf,  budaya bersih, kerja keras, andap asor, kejujuran, berterima kasih dan kerjasama dalam tim. (Maryani FISIP UNS)

print

Share This: