Prof Andrik Isi Orasi Ilmiah tentang Nitizen Civilization

Prof Andrik Saat menyampaikan pidatonya
Prof Andrik Saat menyampaikan pidatonya

Selasa, 3 Januari 2016 bertempat di Auditorium UNS  telah dilaksanakan kegiatan rutin UNS dalam rangka menyambut Tahun 2017 dengan tema “Menyikapi Komunitas Maya (Netizen Civilization) dengan Narasumber Prof. Dr. Andrik Purwasito,DEA dari FISIP UNS. Kegiatan ini diikuti oleh sivitas akademik FISIP UNS dari kalangan tenaga pendidik, kependidikan dan Darma Wanita Persatuan  UNS.

Dalam orasinya Prof. Dr. Andrik Purwasito menyampaikan tentang perkembangan  dunia maya dalam hal ini internet  telah masuk dalam semua sendi kehidupan manusia dimana dari perkembangan teknologi tersebut telah mampu  mengubah  paradigma dimana setiap orang dapat melakukan kontrol informasi yang terjadi dalam waktu yang tepat (real time) walaupun terkadang informasi yang diberikan tersebut belum tentu kebenarannya. elain itu karena banyaknya informasi yang ada setiap orang juga dapat menyukai bahkan menyebarkannya kembali pada orang lain (click and Share) sehingga menimbulkan kebebasan tanpa batas dan menimbulkan identitas baru yang pada akhirnya akan muncul apa yang disebut sebagai nano community yang ditandai dengan empat  pola khas nano-kultur yaitu  minimalis,  simple,  detail dan  fashionable.

Baca juga orasi Ilmiah Netizen Civilization dalam Silaturohin Tahun 2017

team yang ikut mengiringi Prof Andrik saat silaturohim tahunan 2017 di Auditorium UNS
team yang ikut mengiringi Prof Andrik saat silaturohim tahunan 2017 di Auditorium UNS

Menurut Prof Andrik, peradaban dalam dunia maya sendiri membawa dampak terhadap empat hal penting,   yang pertama  adalah Dehumanisasi Global, akan ada musuh-musuh yang  tersembunyi dalam informasi. Hal ini ditandai oleh runtuhnya privatisasi dan keraguan kebenaran  informasi (open share) discreditasi personal (impersonalitas, hakers);  adanya distorsif relasi mayoritas dan minoritas (multikulturalism, asosial, ketimpangan dan rawan konflik);  dan adanya demoralisasi massif (pornografi dan informasi hoax).

Dampak peradaban dunia maya yang kedua adalah memudarnya power status quo  yang ditandai dengan melemahnya kuasa pemerintah dan media mainstream terhadap publik, melemahnya kontrol state atas informasi versus menguatnya kontrol publik atas segala hal melalui informasi; berkurangnya  power legitimation pada media mainstream versus hadirnya media sosial dan media bloggers;  serta pentingnya kontrol ekstra keras kekuasaan atas publik versus menguatnya kontrol liar (ekstreem) publik atas kekuasaan dan publik.

Dampak ketiga adnya Hidden Agenda Global, atau agenda global yang  tersembunyi yang berupa propaganda halus (promosi dan edukasi) disebarkan melalui media maya seperti Info agenda perdamaian dunia, penghancuran terorisme, konflik regional bidang  ekonomi dan agresi dan lain sebagainya.

Dan dampak yang terakhir adalah Soft Power Imperialism, yaitu adanya motif-motif tersembunyi pada penyebaran informasi dan standarisasi internasional  misanya misi sosial motif ekonomi seperti scopus, THES, ISO, misi budaya motif ekonomi seperti dominasi dunia perfilman dan kuliner lainnya.

Terakhir beliau menyampaikan bagaimana sikap dan langkah dalam  menyikapi informasi dunia maya tersebut. Andrik menyebut terpenting adalah bagaimana pesan dan informasi (message packaging) yang menjadi  faktor determinan dapat dikemas sedikian rupa sehingga bermanfaat bagi banyak pihak. Hal ini bisa dilakukan melalui  pendekatan Intelektual dan pendekatan Religius. Dalam pendekatan intelektual beliau menyampaikan bahwa setiap manusia harus kritis tidak  gegabah, dan harus mencari sumber asal serta  dapat memanfaatkan informasi secara bijak. Pendekatan  religius cenderung pada keyakinan  dari masing-masing berdasarkan kalam Illahi.  (Maryani FISIP UNS)

print

Share This: