Yunes Dosen Sosiologi FISIP UNS Menjadi Dosen Tamu Di Kurume University Jepang

 

4
Yuyun Sunesti saat memberi perkuliahan yang diikuti oleh dosen lintas fakultas di Kurume University

Sebagai tindak lanjut dari kerjasama antara  Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret (FISIP UNS) dan Kurume University Jepang yang tertuang dalam Letter of Intent yang ditanda tangani beberapa waktu sebelumnya, pada tanggal 7-11 Desember 2016, Yuyun Sunesti G.D.Soc, M.A, salah satu dosen dari  FISIP UNS mendapat undangan sebagai dosen tamu (visiting lecturer)  di Kurume University, Fukuoka, Jepang. Dalam undangan dan kunjungan kali ini, selain mengisi kuliah juga melakukan beberapa  kegiatan antara lain berdiskusi dengan aktifis LSM di Kurume dan berkunjung ke komunitas Muslim di Fukuoka.

3
Selesai memberi Kuliah Umum bersama mahasiswa Kurume

Untuk kegiatan yang pertama, Yuyun Sunesti atau biasa disapa dengan Bu Yunes ini berkesempatan menjadi dosen tamu dalam kelas ‘Asian Affairs’ di Faculty of Law dengan tema Women and Leadership in Muslim Societies. Kuliah yang dihadiri mahasiswa Faculty of Law ini diawali dengan pemutaran film dokumenter tentang perjuangan seorang perempuan untuk diterima sebagai seorang pemimpin di sebuah pesantren di Indonesia. Kuliah dilanjutkan dengan diskusi seputar fenomena kepemimpinan perempuan dalam masyarakat muslim khususnya di Indonesia dan dinamika sosial, politik dan budaya yang melatar belakangi terjadinya transformasi kepemimpinan perempuan di Indonesia.

1Pada kesempatan berikutnya, Yunes juga memberi kuliah umum di Institute of Comparative Studies of International Cultures and Societies di universitas yang sama dengan judul presentasi The Dynamics of Islam and Gender in Indonesia: Debates on Women’s Rights and Equality. Kuliah umum ini selain dihadiri mahasiswa juga diikuti oleh dosen dari lintas fakultas  yang mendiskusikan tentang dinamika kajian Islam dan jender di Indonesia mulai awal abad 20 hingga era reformasi. Beliau menjelaskan bahwa perdebatan seputar jender dan Islam yang merentang sejak bergulirnya politik etis Belanda di awal abad 20, era orde lama, orde baru dan reformasi sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan politik yang terjadi di setiap rezim yang berbeda tersebut. Dengan menjelaskan isu-isu tentang jender dan Islam yang dominan muncul di setiap periode kekuasaan di Indonesia, Yunes menekankan bahwa wacana tentang Islam dan jender di Indonesia bukanlah wacana yang statis, namun selalu kontekstual mengiringi perubahan sosial dan politik di masyarakat.

5Dalam kunjungan singkat ini, dosen yang pernah belajar sosiologi di Flinders University of South Australia ini juga berkesempatan bertemu dengan beberapa aktifis di Kurume yang tergabung dalam Friendly Global Cultural Center dan berdiskusi dengan hangat tentang program terbaru mereka yang diberi nama‘Kimono for Indonesia’. Program ini adalah upaya dari komunitas masyarakat Kurume yang terdiri dari akademisi, aktifis sosial, pengusaha dan mahasiswa untuk menjalin kerjasama yang lebih baik dengan masyarakat di Indonesia. Kimono simbol persahabatan Indonesia-Jepang yang berbahan dasar merah putih dengan gambar peta Indonesia, wayang, borobudur, pohon karet dan pola batik ini rencananya akan diperkenalkan lebih luas untuk masyarakat Jepang dan Indonesia di waktu mendatang.

Di akhir kunjungannya, perempuan yang berasal dari Purwokerto ini berkesempatan mengunjungi komunitas muslim di Fukuoka dan mendengar cerita tentang kehidupan muslim sebagai minoritas di tengah masyarakat Jepang yang cukup toleran dan menghargai perbedaan. (Dipublikasi Maryani FISIP UNS)

print

Share This: