Pengembangan Sosiologi Sebagai Solusi Masalah Sosial

2Masalah sosial merupakan realitas sosial  dimasyarakat yang tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Hal ini bisa terjadi karena terjadi disfungsi dimasyarakat. Namun demikian sampai saat ini belum ada  batasan konsep  yang pasti tentang masalah sosial ini sendiri, masih ada beberapa penafsiran dan memiliki pengertian yang berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya, hal ini berkaitan dengan sistem nilai dan norma sosial yang bersifat relatif. Beberapa perspektif terkait masalah sosial dikupas oleh beberapa narasumber dalam acara kuliah umum “Meta Masalah-Masalah Sosial dan Pengembangan Sosiologi Klinis” yang diselenggarakan  Rabu, 26 Oktober 2016,  di Aula FISIP UNS, oleh Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret  (FISIP UNS).

Dalam paparan tentang masalah sosial,  Drs. Benny Setia Nugraha, M.Si yang saat ini menjabat sebagai (Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (KB2P3KS)  Yogyakarta), menyampaikan bahwa ada target strategis tentang  bedah masalah sosial yang meliputi kebencanaan, tindak kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi, keterlantaran, ketunaan sosial, penyimpangan perilaku, kecacatan, kemiskinan dan keterpencilan melalui  program Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). PMKS dapat dialami  seseorang, keluarga atau kelompok yang karena suatu hambatan, kesulitan atau gangguan tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya, sehingga tidak dapat terpenuhinya kebutuhan hidupnya baik jasmani, rohani, dan social secara memadai dan wajar. (Kementerian Sosial : 2011)

Menurut Bapak Benny, dengan adanya PMKS maka diharapkan ada sarana, ada kegiatan (seperti rehabilitasi, pemberdayaan, jaminan sosial, perlindungan, PKH, ASLUT, ASODK, KUBE), ada pengembangan (akses, pendapatan,  dan kemampuan) sehingga didapatkan    kehidupan yang layak, aman, dan sejahtera. Melalui  penelitian yang lengkap (holistic) dari semua aspek akan dapat memecahkan permasalahan menuju Indonesia jaya misalnya dilakukan dengan memantapkan nilai-nilai kebangsaan,  karena eksistensi sebuah negara tidak terlepas dari pilar-pilar kebangsaan yang terbangun dari nilai-nilai yang berkembang di masyarakat atau biasa disebut sebagai kearifan lokal. Nilai- nilai kearifan lokal bukan bentuk pasif dari tradisi, tapi merupakan proses aktualisasi yang terus berlangsung dalam interaksi sejarah yang panjang. Dan Mahasiswa  memiliki esensi penting dalam perannya sebagai agen perubahan dalam memetakan masalah social melalui identifikasi permasalahan sosial berkembang secara cepat,  memiliki karakteristik yang beragam, bersifatnya tidak terduga atau tidak terprogram  sedangkan publik menuntut kepada pemerintah agar pro aktif atas munculnya berbagai masalah sosial dan mahasiswa diaharapkan  secara aktif, kritis dan elegan dapat ikut berperan dalam penanganan masalah sosial disekitarnya.

Baca juga :Kuliah Umum tentang  “Meta Masalah-Masalah Sosial dan Pengembangan Sosiologi Klinis” 

6Sedangkan Pembicara kedua Puji Laksono, M.Si,Dosen Sosiologi di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, Institut KH. Abdul Chalim Mojokerto menyampaikan bahwa masalah sosial yang merupakan realitas sosial yang akan selalu ada, sistem sosial masyarakat tidak selamanya berlangsung secara normal sebagaimana yang dikehendaki serta adanya gejala yang tidak dikehendaki oleh masyarakat,  mengenai perspektif sosiologi tentang masalah sosial untuk pengembangan sosiologi sebagai solusi masalah sosial terjadi karena adanya harapan tidak sesuai kenyataan. Beliau menambahkan dari perspektif sosiologi saat  melihat masalah sosial ada tiga perspektif dilihat dari fungsionalis, konflik, interaksionis.  Dari perspektif fungsionalisnya akan focus pada ancaman terhadap tatanan sosial dengan pandangan bahwa masalah sosial muncul dari kegagalan intitusi sosial dan bagian lain dari masyarakat untuk menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya. Dari perspektif konflik, akan focus pada kontribusi  konflik social dengan pandangan masalah sosial muncul dari eksploitasi kelompok yang kuat terhadap yang lemah.  Interaksionis focus pada  hubungan antar individu dengan pandangan bahwa Masalah sosial muncul karena pergaulan dengan pelanggar hukum dan pelabelan karakter buruk.

Pembicara ketiga Dra. Rahesli Humsona, M.Si dalam paparannya menyebutkan bahwa dalam memeta masalah sosial terjadi karena kondisi, situasi atau perilaku yang tidak diinginkan, karena bertentangan, aneh, tidak benar dan dapat mengganggu ketentraman masyarakat.  Kondisi itu diharapkan  dapat diatasi melalui kegiatan dan kesepakatan bersama.  Adapun perspektif masalah sosial bisa disebabkan karena patologi sosial, disorganisasi sosial, konflik nilai, perilaku menyimpang, labelling, perspektif kritis yang disebabkan karena kultur dan struktur. Kultur berhubungan dengan nilai-nilai yang tumbuh dan/atau berkembang dalam kehidupan komunitas sedangkan struktur berhubungan dengan pola-pola hubungan antar-individu dalam kehidupan komunitas.

Dan masih menurut Bu Lilik biasa disapa, sosiologi klinis dapat digunakan untuk memahami tentang kelompok penduduk rentan, seperti anak-anak, pemuda atau orang tua dan dapat bekerja di berbagai lembaga perawatan serta dapat terlibat langsung dalam manajemen kasus dan perencanaan perawatan sehingga keberadaan sosiolog klinis (sociotherapist), bisa dirangkap oleh  profesi lain yang relevan, yang  bertujuan untuk memperbaiki kondisi masyarakat, melindungi warga masyarakat dari tindakan penindasan dan kesengsaraan dan  memperbaiki kehidupan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan. (Maryani FISIP UNS)

print

Share This: