Diskusi Publik dan Diseminasi Hasil Riset Pergerakan Mahasiswa

1Selasa, 20 September 2016, pukul 13.00-15.30 WIB di Ruang Aula FISIP UNS  telah diselenggarakan  kegiatan Diskusi Publik dan Diseminasi Hasil Riset Pergerakan Mahasiswa  dengan menghadirkan narasumber  Eko Prasetyo dari Praktisi Social Movement Indonesia, Nanang Wijayanto, seorang trainer sekaligus dosen dan Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si  dosen dan akademisi dari FISIP  UNS. Kegiatan ini diikuti perwakilan organisasi mahasiswa baik dari dalam maupun dari luar UNS.

Kegiatan diawali dari paparan Diseminasi Hasil Riset oleh Tim Riset Pengantar Statistik Sosial Saudara Subhan dari Program Studi Ilmu administrasi Negara. Dari hasil analisis nya pergerakan generasi muda dalam  pergerakan nasional yang ada di Universitas Sebelas Maret menunjukkan angka 45 % yang peduli , dan 55% lainnya menjawab kurang atau tidak peduli terhadap pergerakan  pemuda yang terjadi disekitarnya.Dari paparan yang dihasilkan ini kemudian diulas oleh ketiga narasumber dalam perspektif yang berbeda.2

Menurut Intan Novia kegiatan ini dilatarbelakangi fakta sejarah yang menunjukkan pemuda  Indonesia memiliki peran penting dalam meraih kemerdekaan dan mempersatukan tanah air. Kongres Pemuda tahun 1928 menandai gerakan pemuda Indonesia. Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan wujud hasil perjuangan kaum muda bangsa. Ahmad Subardjo, Soetomo, Soekarno, Agus Salim, Mohamad Hatta, Sukarni, Muhammad Yamin, Sudjono hadir di barisan pemuda sekaligus intelektual modern masa itu.

Awalnya gerakan mahasiswa Indonesia menjadi lokomotif nasionalisme. Mereka menulis dan berdiskusi mengenai Indonesia. Pada tahun 1960 Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) aktif menggugat pemerintahan Soekarno. Reformasi 1998 dilakukan penuh oleh kesatuan mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia yang berkumpul di Ibu Kota Negara dalam aksi demonstrasi besar-besaran mendukung reformasi pemerintahan Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun. Mahasiswa seringkali disebut sebagai agen perubahan dan pembangunan. Pasca reformasi gerakan mahasiswa lebih sering turun ke jalan dengan aksi demosntrasi. Reformasi membuka kebebasan kelompok-kelompok masyarakat, pers dan gerakan mahasiswa sebagai watch dog pemerintah.

3 Tapi saat ini mahasiswa seperti sedang memasuki zona nyamannya. Arus globalisasi dan mahalnya akses pendidikan tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi beban sosial ekonomi mahasiswa saat ini. Kita tahu saat ini orientasi dari dunia akademik adalah tingginya indeks prestasi akademik dan pendeknya masa studi serta masa tunggu pencarian kerja. Tuntutan jaman membuat manusia lebih reaktif pada desakan ekonomi. Penelitian dengan model survey untuk mengupas pergerakan mahasiswa dilakukan oleh mahasiswa kelas Pengantar Statistik Sosial Tahun 2015.

Adapun tujuan dari diseminasi hasil riset baik mahasiswa maupun dosen ini kali ini  penting untuk didiseminasikan dan didiskusikan sebagai telaah bersama dan evaluasi pergerakan mahasiswa ke depan karena pemuda adalah agen perubahan bangsa. Sedangkan kegiatan  yang serupa  dimotori LPGR FISIP UNS ini direncanakan akan dilangsungkan setiap satu bulan sekali dengan tema yang berbeda. (Maryani FISIP UNS)

print

Share This: