Seminar Media “Massa Menggali Kearifan Lokal”

Kebudayaan bisa menjadi identitas bagi seseorang atau suatu kelompok yang membedakan  dengan kelompok lainnya sebagai  identitas atau ciri khas khususnya. Berbicara mengenai kebudayaan tak lepas  dengan kearifan lokal  yang terkandung didalamnya. dimana  kearifan local satu budaya dengan budaya lainnya tidaklah sama. tergantung terhadap budaya dan kelompok penganutnya. Untuk melihat dan memahami tentang budaya local ini Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) VISI,  Radio Fiesta Fm dan Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret (FISIP UNS) menyelenggarakan acara Seminar Media Massa  serta Essay Competition bertema “Menggali Kearifan Lokal Melalui Media Massa”.

Seminar ini dilaksanakan Sabtu, 17 September 2016 pukul  08:30 WIB — 12:00 WIB di Aula FISIP UNS dengan menghadirkan  narasumber  Blontank Poer (Penulis dan Blogger serta founder Rumah Blogger Indonesia) dan  Yunianto Puspowardoyo (General Manager Solo Radio yang  menyampaikan materi pentingnya media massa untuk menggali kearifan lokal khususnya budaya Solo.

Dalam paparannya kedua narasumber menyampaikan bahwa globalisasi dan modernisasi semakin memperkuat pengaruh luar terhadap nilai-nilai yang berkembang di Indonesia. Budaya barat berkembang dengan pesat dan telah menggerus budaya tradisional. Tidak terkecuali di Solo. Budaya Jawa yang sarat akan makna, petuah, dan budi pekerti mulai luntur ditinggalkan. Sebut saja wayang kulit atau wayang orang. Budaya yang seharusnya dijaga dan dilestarikan, kini justru mulai luntur karena kurangnya apresiasi dan masyarakat, terlebih remaja. Contoh lain misalnya, budaya unggah-ungguh (sopan santun) yang mulai memudar. Warga Solo sudah tidak lagi menggunakan bahasa Jawa kromo inggil, padahal hal tersebut merupakan bentuk unggah-ungguh dengan orang yang lebih tua. Globalisasi dan modernisasi tersebut telah meluluhlantakan nilai budaya tradisional.

Pada dasarnya, nilai-nilai tradisional mengandung banyak kearifan lokal yang masih sangat relevan dengan kondisi saat ini yang seharusnya dilestarikan, diadaptasi, bahkan dikembangkan lebih jauh. Namun demikian dalam kenyatannya nilai-nilai tersebut mulai meredup dan memudar. Upaya pelestarian hanya nampak sekedar pemyataan simbolik. Akibatnya, generasi muda mengalami kesufitan menyerap nilai budaya, dan semakin kehilangan kemampuan memahami kearifan lokal. Padahal, kearifan lokal memegang peran penting sebagai filter ketika terjadi benturan antara budaya lokal dengan tuntutan perubahan.

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi menjadi faktor pendukung perkembangan kebudayaan dan kearifan lokal. Kontak melalui media menggantikan kontak fisik sebagai sarana komunikasi. Perubahan tersebut menjadikan komunikasi lebih mudah dan cepat dilakukan. Budaya yang luntur harus dikembalikan. Surat kabar misalnya, memberikan informasi dan pemahaman tentang kearifan lokal. Meski faktanya di banyak media porsi berita tentang kearifan lokal masih sangat terbatas. Media massa juga melakukan hal yang mendukung perkembangan dengan meningkatkan kesadaran mengenai pentinganya kebudayaan.

Sedangkan menurut salah seorang panitia  Arief menyampaikan bahwa  kearifan local  di setiap budaya di Indonesia yang mulai memudar akibat arus globalisasi  dan kurangnya pemahaman mengeai kearifan local budayanya sendiri turut menjadi latar belakang diselenggarakanannya acara ini. Hal inilah yang kemudian  kemudian menjadikan essay competition dengan mengambil tema  mengangkat kearifan local nusantara melalui Radio sebagai media Massa” diselenggarakan.  Adanya kebudayaan di Solo yang beragam dan tentunya sangat menarik untuk dipelajari dan disampaikan ke khalayak ramai sebagai penggagas bahwasannya kearifan lokal suatu budaya harus tetap dijaga walaupun zaman telah berganti. Disini penyelenggara acara mengharapkan dengan adanya kearifan lokal budaya solo tersebut dapai disampaikan melalui media massa yang perkembangannya begitu massif. Sehingga penyelenggara acara berharap dengan adanya acara seminar yang bertajuk “Menggali Kearifan Lokal Budaya Solo Melalui Media Massa” dapat dimanfaatkan bersama-sama untuk mempertahankan kebudayaan itu sendiri. (Maryani FISIP UNS)

print

Share This: